Khutbah Iedul Adha 1431 H di Mesjid
Jamik Agung Blangpidie.
KETELADANAN NABI IBRAHIM
ALLAHU
AKBAR (9 X), LAILA HAILLALHUWALLAHU AKBAR, ALLAHUAKBAR WALILLAHILHAM.
Alhamdulillahi rabbil a’lamin.
Wabihi nasta’inu ‘ala umuriddun ya waddin. Washallahu wasallama ‘ala khairikhalqihi
sayyidina Muhammadin, wa’ala alihi washahbihi ajmain. Asyhadu anla ilahaillah
almalikul haqqul mubin, wasyhadu anna sayyidana Muhammadar rasulullah
ashadiqul wa’dul amin. Allahhumma shalli wasallim ala hazan nabiyyil karim,
wa’ala alihi wasahbihi ajmain.
Amma ba’du, faya ayyatuhal
muslimun. Ittaqullahahaqqatuqatihi walatamutunna illa waantum muslimun. Ittaqullahahaqqatuqatihi
walatamutunna illa waantum mukminun. ittaqullahahaqqatuqatihi walatamutunna
illa waantum muttaqun.
Qalalllahuta’ala fikitabihil aziz
waquranul majid :
A’uzubillah....
Bismillahhir....
Rabbi habli minashalihin (100).
Fabasysyarnahu bighulamin halim (101). Falamma balaghama ’atussa’ya, qala
yabunayya inni ara filmanami anni azbahuka fanzur maza tara. Qaalaya abatif
‘al matukmar, satajiduni insya allahu minashabirin (102). Falamma aslama
watawallahu liljabir (103). Wanadainahu ayya Ibrahim. (104). Qadshaddaqtarru’ya,
innakazalika najzil muhsinin (105). Inna haza lahual bala ulmubin (106) Fadaynahu
bizibhin adhim (107) ( Surat Ash shaffaat 100- 107).
Artinya:
Rabbi habli minashalihin (100)
(ya Tuhanku anugrahkanlah bagiku seorang anak yang shalih). Fabasysyarnahu
bighulamin halim (101) (maka Kami beri ia kabar gembira dengan seorang anak
yang amat sabar). Falamma balaghama’atussa’ya, qala yabunayya inni ara
filmanami anni azbahuka fanzur maza tara. Qalaya abatif ‘al matukmar, satajiduni
insya allahu minashabirin (102).(Maka tatkala anak itu telah sanggup membantu
berusaha bersama Ibrahim, maka Ibrahim
berkata: Wahai Anakku yang tercinta, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku diperintahkan Allah menyembelihmu. Maka fikirkanlah wahai anakku
yang tersayang tentang apa pendapatmu. Ismail menjawab: Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
Allah kepada mu, insya Allah engkau mendapatkan aku termasuk orang-orang yang
sabar). Falamma aslama watawallahu liljabir (103). (Tatkala keduanya telah berserah
diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya, terlihat nyatalah kesabaran
keduanya). Wanadainahu ayya Ibrahim. (104) (dan Kami panggilah ia Hai Ibrahim).
Qadshaddaqtarru’ya, innakazalika najzil muhsinin (105) (Sesungguhnya kamu
telah mambenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Inna haza lahual bala ulmubin (106)
(Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata). Fadaynahu bizibhin
adhim (107) (dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Allahu
Akbar 3x walillahhilham.
Ibrahim dan Ismail dua Nabiyullah
dan Rasulullah yang telah menunjukkan kepada kita betapa taatnya mereka.
Betapa patuhnya mereka kepada Allah. Betapa cintanya mereka kepada Allah. Pada
hal, Ibrahim sangat mendambakan anak. Ia pada saat itu hanya memiliki serang
anak. Dan itupun sudah cukup lama ditunggunya.
Pada awalnya, karena tidak
memiliki anak, Ibrahim berdoa kepada Allah agar diberikan anak yang shaleh. Dan
ini terlihat dari doa yang dimohonkan Ibrahim setiap waktu kepada Tuhannya.
Rabbi habli minashalihin (100)
(ya Tuhanku anugrahkanlah bagiku seorang anak yang shalih).
Hadirin
sidang jamah iedul adha yang dirahmati Allah.
Ibrahim tergolong hamba Allah
yang sangat dermawan. Setiap tahun ratusan hewan ternaknya dikorbankan. Banyak
orang bertanya terhadap kedermawanan Ibrahim itu. Karena taatnya Ibrahim kepada
Allah, dia berucap, jika Allah memberiku seorang anak
dan jika diminta untuk saya korbankan, saya dengan ikhlas akan mengorbankannya.
Janji Ibrahim inilah yang
diujudkan oleh Allah dalam pengorbanan yang sangat fundamental itu, sebagaimana
yang diceriterakan secara jelas dalam ayat yang telah khatib bacakan tadi.
Banyak hal yang diriwayatkan
dalam perjalanan kurban ini. Syaithan mengganggu mereka. Syaithan mengganggu
Siti hajar (ibunda Ismail), tetapi tidak mempan, syaithan mengganggu pula
Ismail, juga tidak mempan. Akhirnya syaithanpun mengganggu Ibrahim. Ibrahim melempar
syaithan tersebut. Perjalanan inilah yang dilambangkan sampai saat ini
dengan pelemparan jumrah pada saat
melaksanakan ibadah hajji.
Hadirin
Sidang Iedul Adha yang dirahmati Allah.
Hari ini, kepada kita umat nabi Muhammad
SAW, tidak diminta untuk berkorban seperti itu. Hanya diminta untuk korban harta sebesar kemampuan. Ada
yang mampu mengurbankan sapi, kerbau, kambing dsbnya. Berkurbanlah.
Sesungguhnya, Syariat kurban itu
memiliki dua aspek.
1.
Ibadah yang sifatnya hubungan Vertikal antara
manusia muslim dengan Tuhannya, merupakan ciri kepatuhan dan menjalankan
syariat Allah dan Rasulnya. Kurban merupakan lambang kepatuhan, ketaatan dan
cinta kita kepada Allah dan Rasulnya.
2.
Ibadah yang sifatnya Horizontal dan merupakan
ibadah sosial. Kurban adalah merupakan ibadah yang dilakukan dengan ikhlas
untuk membantu orang lain, fakir miskin, anak yatim dan kaum dhuafa. Kepedulian
terhadap kaum dhuafa sangat dianjurkan dalam agama kita.
Firman Allah : Araaytallazi
yukazzibu biddin, Fazalikallazi yadu’ulyatim. Wala yahudhu’ala thaamilmiskin. (Tahukah
kamu orang yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik dan tidak
peduli dengan anak yatim. Dan tidak menganjurkan dan memberi makan orang
miskin).
Allah menegaskan kembali syariat
kurban ini dalam surat alkautsar. Inna a’dhaina kalkautsar. Fashalli lirabbika
wanhar. Innasya niaka hual abtar. (Sesungguhnya
kami telah memberikan kepada mu nikmat yang sangat banyak. Maka dirikanlah
shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.......).
Rasulullah SAW sangat menekankan
masalah kurban ini. Kurban disunnat muakkadkan bagi orang yang mampu.
Rasulullah bersabda maksudnya. Jika
seseorang diantaramu mampu melaksanakan kurban tetapi tidak melakukannya,
janganlah mendekati tempat shalat kami.
Ibadah kurban merupakan ibadah
yang sangat dianjurkan oleh Rasul, dan Ibadah kurban merupakan ibadah sosial
sudah sangat difahami. Oleh karenanya sejak dari Nabi Adam, syariat kurban
telah dilaksanakan sampai sekarang ini.
Tetapi anehnya
hadirin, saat ini ada pikiran dari sekelompok
orang Islam untuk mengganti ibadah kurban dalam bentuk hewan kepada
mengumpulkan biaya dalam bentuk uang. Kelompok ini berpikiran bahwa di
Indonesia biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat muslim untuk kurban mencapai
lebih dari 3 trilliun setiap tahun. Pikiran mereka, jika kurban dalam bentuk
hewan pemanfaatannya hanya dalam satu sampai 3 hari saja, selanjutnya
dibuang dalam bentuk kotoran. Kelompok ini berfikiran kurban tidak perlu dalam
bentuk hewan, tetapi kurban dialihkan dalam bentuk uang saja, sehingga dana
yang terhimpun sekitar 3 Trilliun per tahun ini dapat digunakan untuk berbagai
kegiatan. ......... Astagfirullah. Ini pikiran-pikiran dangkal yang hanya
menggunakan logika saja dan itulah yang berkembang saat ini. Pikiran sejenis
itu dipelopori oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya intelektual. Bukan
hanya itu, Hajjipun menurut pikiran mereka tidak perlu dilakukan berulang,
cukup sekali saja. Jika dilakukan berulang itu hanya membuang-buang uang dan
memperkaya orang Arab saja.
Pikiran-pikiran ini sudah mulai
berkembang di Aceh. Dan ini perlu diwaspadai dan dicegah. Agama akan rusak jika
setiap syariat diterjemahkan sesuai dengan akal logika.
Syariat kurban tidak bisa ditukar
dengan apapun. Rasulullah SAW mengatakan kurban dilakukan dengan menyembelih
hewan. Kenapa hewan disembelih, karena
pada saat Ibrahim melaksanakan perintah Allah menyembelih Ismail, Allah
gantikannya dengan hewan sembelihan. Oleh karena itu, syariat kurban dilakukan
dengan penyembelihan hewan. Ada kurban dalam bentuk hewan unta, ada yang
dalam bentuk sapi dan kerbau yang disyariatkan untuk 7 orang, kambing,
biri-biri, dan kibas untuk 1 orang, dsbnya. Itu ketentuan yang telah ada. Tidak
bisa diganti dengan apapun. Syariat harus ditegakkan. Dan pikiran-pikiran kebablasan
seperti itu yang saat ini sudah mulai masuk ke Aceh perlu dicegah, sehingga
sendi-sendi agama tidak rusak.
Allahu
Akbar 3 X Walillahilham
Rasulullah saw bersabda: Apabila
seorang laki-laki memiliki 3 orang anak, memberikan hak-haknya dengan adil,
memberikan kasih sayang dengan baik dan mendidiknya dengan benar maka ia bersamaku
dalam syurga (fil jannah). Sahabat bertanya. Ya Rasul bagaimana kalau dua
orang. Apabila seorang laki-laki memiliki 2 orang anak, memberikan hak-haknya
dengan adil, memberikan kasih sayang dengan baik dan mendidiknya dengan benar,
maka ia bersamaku dalam syurga. Dan apabila seorang laki-laki memiliki 1 orang
anak, melakukan hal yang sama, maka ia bersamaku dalam syurga.
Hari-hari ini, keadaan dan
kemampuan menjalankan syariat agama di kalangan masyarakat kita makin terasa
sangat rendah. Kemampuan mehamami agama di kalangan masyarakat kita sudah
sangat mengkhawatirkan. Gejala seperti itu sudah terlihat bukan hanya saat
ini. Gejala itu sudah cukup lama. Survey yang dilakukan oleh kelompok
Mahasiswa Islam bekeraja sama dengan organisasi pemuda lainnya menunjukkan
gejala masyarakat Aceh terutama golongan
muda meninggalkan syariat dan kewajiban
dalam beragama sudah terjadi bukan hanya di kota tetapi juga telah terjadi degradasi
sampai ke kampung-kampung. Dulu orang beranggapan di kota orang banyak yang
tidak taat. Tetapi saat ini keadaan itu telah menjalar ke desa-desa. Orang
terutama generasi muda merasa bangga jika melanggar ketentuan agama. Orang merasa
telah moderen jika tidak shalat dan tidak puasa. Malah dengan terang-terangan
dipernampakkan di depan umum. Anak muda kita bahkan juga sebahagian orang tua
merasa bangga jika mabok dan teler minuman keras, teler karena narkoba dan
sejenisnya. Ini gejala-gejala yang sangat mengkhawatirkan.
Rasulullah SAW bersabda, jika
seseorang dengan sengaja meninggalkan shalat dan ia tahu bahwa itu kewajiban
yang diperintahkan atasnya, qad kafara jihara, sungguh telah menjadi kafir yang
nyata.
Aqidah sebahagian generasi muda
kita sudah sangat dangkal. Pemahaman kepada Tuhan dan rasulnya sangat rendah.
Sehingga kondisi labil seperti itu sangat mudah dipengaruhi oleh faham lain.
Karena itu, tidak mengherankan jika beberapa waktu lalu ada yang murtad di
Aceh Barat. Dan mungkin yang murtad terselubung itu lebih banyak lagi. Kita
bisa saja terkejut dengan adanya berita
orang murtad. Kita bisa gundah karena munculnya sekte menyimpang di
Bireun yang disebut dengan kelompok sekte MILLATA ABRAHAM yang tidak mengakui
kerasulan Nabi Muhammad SAW. Kita juga bisa terkejut dengan adanya faham-faham
aneh lainnya yang berkembang dalam masyarakat. Faham itu lebih mengedepankan
logika, lebih mengedepankan hal yang bisa diraba, bisa dilihat dan yang mampu
difahami. Kelompok ini cenderung menafikan hal yang ghaib. Justru agama Islam
didirikan atas kemampuan untuk beriman kepada yang ghaib itu. Orang saat ini
ragu terhadap dosa dan pahala, sebahagian orang hari ini telah mulai ragu
terhadap adanya syurga dan neraka, dan hal-hal lain yang tidak bisa dijangkau akalnya.
Firman Allah : Zalikal
kitabula raibafihi hudallil muttaqin. Allazi nayukminuna bilghaibi
wayuqimunashshalata wamimma razaknahum yumfiqun. (demikianlah kitab Alquran yang tidak ada ragu padanya dan menjadi
petunjuk bagi orang taqwa. yaitu Orang
yang beriman dengan yang ghaib, dan mendirikan shalat dan mengeluarkan sebahagian
dari rizki mereka).
Kebanyakan kita hari ini tidak
banyak peduli lagi dengan menegakkan syariat agama. Syariat Islam cukup dibukukan
dalam Qanun. Syariat Islam cukup hanya
dalam bentuk tulisan Arab Melayu di papan pamlet nama bangunan. Selebihnya
tidak ada makna. Banyak masyarakat dan juga pemimpin meninggalkan perintah
Allah. Allah telah ingatkan kita dengan berbagai macam peringatan. Allah kasih
kita bala. Negara kita saat ini telah dirundung bala. Ada Tsunami Aceh yang
tergolong terbesar di dunia, gempa diberbagai tempat, banjir, gunung meletus
dan berbagai macam peringatan yang secara hati jernih tak mampu kita tangkap
sebagai peringatan Tuhan.
Firman Allah dalam Surat Al
A’raaf (79): Lahum qulubun la yafqahu nabiha. (mereka punya hati, tetapi tak mau memahaminya)
Dan dalam surah Yasin Allah
berfirman: Walaqad adhallamingkum jibillan kastira. Afala takunu ta’qilun. (Sesungguhnya
Syaithan telah menyesatkan sebahagian diantaramu. Apakah kamu tidak memikirkannya).
Boleh jadi, hati sebahagian
masyarakat kita telah tertutup dari petunjuk. Dan itu bisa dibuka kembali
dengan bimbingan. Pemerintah harus mengambil bahagian nyata dalam menegakkan
syariat di masing-masing tingkatan.
Rasulullah SAW bersabda. Jika
ada kemungkaran, jika meliliki kemampuan cegahlah dengan kuatan tangan, jika
tidak mampu, cegahlah dengan lisan. Dan jika tidak mampu cegahlah dengan hati,
itu yang selemah-lemah iman. Hadis ini dapat diaplikasikan dalam
kenyataan. Yang memiliki kekuasaan cegah kemungkaran dengan kekuasaannya.
Pemerintah yang memiliki kekuasaan tegakkan syariat itu secara baik. Jangan
pejabat pemerintah yang merusak syariat. Jika ini yang terjadi merupakan bala
yang sangat besar.
Firman Allah: Wain
nasyak nughriqhum fala sharikhalahum, walahum yunkhazun. Illa rahmatan minna
wamata’an ilahin. (Jika kami
menghendaki, nisyaya kami tenggelamkan mereka yang berbuat ingkar, maka tidaklah
ada bagi mereka pertolongan dan tidaklah ada bagi mereka keselamatan. Illa
rahmatan minna wamata’an ilahin. Tetapi kami selamatkan mereka karena rahmat
dari kami dan untuk memberikan kesenangan sampai pada suatu ketika).
Dalam ayat yang lain Allah
sampaikan kepada manusia, jika Allah menurunkan bala atau siksa karena
durhaka sebahagian penduduk, maka bala dan siksaan itu akan dialami oleh
seluruh orang (Anzalallahu
biqaumin ashaba, azaaban ankana fihim). Dan bala-bala yang diturunkan
Allah sudah kita rasakan secara bertubi-tubi, baik di Aceh maupun secara
nasional di Indonesia.
Allahuakbar
3x Walillahilham.
Sekarang untuk menguatkan iman
dan menegakkan pemahaman terhadap
agama yang diridhai oleh Allah SWT tidak ada jalan lain semua orang tua harus
menaruh perhatian kepada pendidikan agama anaknya. Anak kita harus diisi
aqidahnya secara benar. Pendidikan anak harus dilakukan seimbang antara
pendidikan dengan pemahaman aqidah. Pendidikan anak secara luas tidak
dilarang. Silakan didik anak untuk mendapatkan ilmu seluas-luasnya, karena
Allah ciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tetapi perlu diwujudkan
keseimbangan pengetahuan aqidah, akhlak dan pengetahuan-pengatahuan lain secara
baik. Keseimbangan itulah yang mampu menghasilkan pemimpin yang baik,
berakhlak dan jujur.
Mendidik anak secara baik
merupakan amanah Allah dan kewajiban yang harus dilaksanakan dan merupakan tanggung
jawab orang tua. Setelah orang tua, selanjutnya merupakan tanggung jawab
pemerintah. Masing-masing pihak punya tanggung jawab.
Rasulullah SAW bersabda: Kullukum
Ra’ain. Wakullukum mas ulun arra’aiyyatih. (setiap anda itu pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban dari apa
yang anda pimpin).
Masyarakat yang taat, yang taqwa,
apa lagi yang dipimpin oleh pemimpin yang taqwa, yang jujur, perkataan sama
dengan perbuatan akan mampu membawa kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.
Allah berfirman:
Walau Anna ahlal qura amanu
wattaqau lafatahna ‘alaihim barakatim minassamai walardh. (Jika ada masyarakat suatu daerah beriman dan taqwa Allah akan turunkan
berkat dari langit dan dari bumi).
Untuk menghindari pendangkalan
aqidah masyarakat kita, pemerintah dan berbagai pihak harus mengambil sikap dan
upaya yang tegas. Pemahaman agama harus dimulai dari pejabat pemerintah
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Umar ibnu al aziz, khalifah Islam pada
abad pertengahan yang adil dan taat sehingga menghasilkan masyarakat yang
tenteram. Bukan hanya manusia, binatangpun hidup tenang. Diceriterakan bahwa,
selama khalifah yang adil ini memimpin serigalapun tidak akan memangsa domba
peliharaan masyarakat. Jika pemimpin memberikan ciri urakan dan tak bisa dicontoh, maka keadaan rakyat juga akan memunculkan gambaran seperti itu
pula.
Allahuakbar
3X Walillahilham.
Di akhir khutbah ini khatib ingin
sampaikan apa yang telah dinuqilkan Allah dalam Alquran yang patut kita simak
dan kita laksanakan dalam kehidupan kita. Luqmanul Hakim mewasiatkan kepada
anaknya :
Faizqala Luqmanu liibnihi wahuwa
yaiedhuhu: ya bunayya latusyrik billah. Innasyirka ladhulmun ‘adhim. (dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada
anaknya : Wahai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya
Musyrik itu benar-benar kedhaliman yang besar).
Pada ayat yang lain Allah
nukilkan wasiat Ibrahim dan Ya’qub kepada putranya:
Wawasha biha Ibrahimu banihi wa
Ya’quba: Ya bunayya, innallahasthafa lakumuddina, fala tamutunna illa waantum
muslimum. (Ketika Ibrahim dan juga Ya’qub mewasiatkan
kepada anaknya: wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilih Islam sebagai
agamamu, maka janganlah kamu mati kecuali sebagai muslim).
Katika Ya’qub akan wafat ia
berwasiat kepada anaknya: Mata’buduna mimba’di, (apa yang kamu sembah setelah aku tidak ada
lagi).
Ini beberapa wasiat yang
diucapkan oleh Auliya Allah dan Rasul Allah yang sangat patut kita simak dan
kita contoh dalam kehidupan masyarakat Aceh hari ini. Tanpa ada mengembalikan
martabat Aceh sebagai penganut Islam yang baik, yang dari dulu dikenal sebagai Serambi
Mekkah, maka Aceh ini akan berubahlah bentuknya dari daerah yang bertabur mesjid, berubah menjadi bertabur ........
entah apa nantinya.
Oleh karena itu, sebagai penutup
kutbah ini Allah ajarkan kita suatu doa yang patut kita amalkan sehingga kehidupan
kita terbimbing ke jalan yang baik.
Qul Rabbi adkhilni
mudkhalashidqin, waakhrijni mukhraja shidqin, waj’alli milladun kashulthanan
nashira. (Ya Tuhan, Tunjukilah kami
jalan yang benar, dan keluarkanlah kami melalui tempat yang benar, dan jadikanlah
bagi kami kekuasaan dari sisimu yang dapat menolong).
Wallahua’lam bisshawab, wailaihil
marji’u wal maab.
Baraqallahu
liwalakum filqur’anilkarim, wanafa’ani waiyyakum bihi minal ayati wazikril
hakim, wataqabbala minni wa minkum tilawatahu innahu huassamiun bashir. Innahu
jawadun karimum malikum barrurraufurrahim.
Blangpidie,
17 Nopember 2010.
Tgk. Ir. H. SIlman Hamidi, MSi
(Pimpinan Dayah Raudhatul Ulum Alue
Pisang, Kuala Batee Aceh Barat Daya Prov. Aceh.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar