Minggu, 22 September 2013

Khutbah Iedul Adha



Khutbah Iedul Adha 1431 H di Mesjid Jamik Agung Blangpidie.

KETELADANAN NABI IBRAHIM

ALLAHU AKBAR (9 X), LAILA HAILLALHUWALLAHU AKBAR, ALLAHUAKBAR WALILLAHILHAM.

Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Wabihi nasta’inu ‘ala umu­riddun ya waddin. Washallahu wasallama ‘ala khai­ri­khalqihi sayyidina Muhammadin, wa’ala alihi washah­bihi ajmain. Asyhadu anla ilahaillah almalikul haqqul mu­bin, wasyhadu anna sayyidana Muham­ma­dar rasulul­lah ashadiqul wa’dul amin. Allahhumma shalli wasallim ala hazan nabiyyil karim, wa’ala alihi wasahbihi ajmain.
Amma ba’du, faya ayyatuhal muslimun. Ittaqullaha­haq­qatuqatihi wala­tamutunna illa waantum muslimun. Itta­qullahahaqqatuqatihi walatamutunna illa waantum muk­­mi­nun. ittaqullahahaqqatuqatihi walatamutunna illa waantum muttaqun.
Qalalllahuta’ala fikitabihil aziz waquranul majid :
A’uzubillah....
Bismillahhir....
Rabbi habli minashalihin (100). Fabasysyarnahu bighu­lamin halim (101). Falamma balaghama ’atus­sa’ya, qala yabunayya inni ara filmanami anni azba­huka fanzur maza tara. Qaalaya abatif ‘al matukmar, satajiduni insya allahu minashabi­rin (102). Falamma aslama watawallahu liljabir (103). Wanadainahu ayya Ibrahim. (104). Qad­shad­­daqtar­ru’ya, innakazalika najzil muhsinin (105). Inna haza lahual bala ulmubin (106) Faday­nahu bizibhin adhim (107) ( Surat Ash shaffaat 100- 107).
Artinya:
Rabbi habli minashalihin (100) (ya Tuhanku anu­grah­kanlah bagiku seorang anak yang shalih). Fabasysyarnahu bighulamin halim (101) (maka Kami beri ia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar). Falamma ba­laghama’atussa’ya, qala yabunayya inni ara filmanami anni azbahuka fanzur maza tara. Qalaya abatif ‘al matuk­mar, sa­ta­jiduni insya allahu minashabirin (102).(Maka tatkala anak itu telah sanggup membantu berusaha bersama  Ibra­him, maka Ibrahim berkata: Wahai Anakku yang tercinta, se­sungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku di­perintahkan Allah menyembelihmu. Maka fikirkanlah wa­hai anakku yang tersayang tentang apa pen­da­pat­mu. Ismail menjawab:  Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang dipe­rin­tahkan Allah kepada mu, insya Allah engkau mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar). Falamma aslama watawallahu liljabir (103). (Tatkala keduanya telah ber­serah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya, ter­lihat nyatalah kesabaran keduanya). Wanadainahu ayya Ibrahim. (104) (dan Kami panggilah ia Hai Ibrahim). Qadshad­daqtarru’ya, innaka­zalika najzil muhsinin (105) (Sesung­guhnya kamu telah mambenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah ka­mi memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.  Inna haza lahual bala ulmubin (106) (Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata). Fadaynahu bizib­hin adhim (107) (dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Allahu Akbar 3x  walillahhilham.
Ibrahim dan Ismail dua Nabiyullah dan Rasulullah yang te­lah menunjukkan kepada kita betapa taatnya mereka. Betapa patuhnya mereka kepada Allah. Betapa cintanya mereka kepada Allah. Pada hal, Ibrahim sangat men­dam­ba­kan anak. Ia pada saat itu hanya memiliki serang anak. Dan itupun sudah cukup lama ditunggunya.
Pada awalnya, karena tidak memiliki anak, Ibrahim ber­doa kepada Allah agar diberikan anak yang shaleh. Dan ini terlihat dari doa yang dimohonkan Ibrahim setiap waktu kepada Tuhannya.
Rabbi habli minashalihin (100) (ya Tuhanku anugrah­kanlah bagiku seorang anak yang shalih).
Hadirin sidang jamah iedul adha yang dirahmati Allah.
Ibrahim tergolong hamba Allah yang sangat dermawan. Setiap tahun ratusan hewan ternaknya dikorbankan. Banyak orang bertanya terhadap kedermawanan Ibrahim itu. Karena taatnya Ibrahim kepada Allah, dia berucap, jika Allah memberiku seorang anak  dan jika diminta un­tuk saya korbankan, saya dengan ikhlas akan mengor­bankannya.
Janji Ibrahim inilah yang diujudkan oleh Allah dalam pengorbanan yang sangat fundamental itu, sebagaimana yang diceriterakan secara jelas dalam ayat yang telah khatib bacakan tadi.
Banyak hal yang diriwayatkan dalam perjalanan kurban ini. Syaithan mengganggu mereka. Syaithan mengganggu Siti hajar (ibunda Ismail), tetapi tidak mempan, syaithan mengganggu pula Ismail, juga tidak mempan. Akhirnya syaithanpun mengganggu Ibrahim. Ibrahim me­lempar syaithan tersebut. Perjalanan inilah yang dilam­bang­­kan sampai saat ini dengan pelemparan jumrah pada saat melaksanakan ibadah hajji.
Hadirin Sidang Iedul Adha yang dirahmati Allah.
Hari ini, kepada kita umat nabi Muhammad SAW, tidak di­minta untuk berkorban seperti itu. Hanya diminta  untuk korban harta sebesar kemampuan. Ada yang mampu mengurbankan sapi, kerbau, kambing dsbnya. Berkur­banlah.
Sesungguhnya, Syariat kurban itu memiliki dua aspek.
1.      Ibadah yang sifatnya hubungan Vertikal antara manusia muslim dengan Tuhannya, merupakan ciri kepatuhan dan menjalankan syariat Allah dan Rasulnya. Kurban merupakan lambang kepatuhan, ketaatan dan cinta kita kepada Allah dan Rasulnya.
2.      Ibadah yang sifatnya Horizontal dan merupakan ibadah sosial. Kurban adalah merupakan ibadah yang dilakukan dengan ikhlas untuk membantu orang lain, fakir miskin, anak yatim dan kaum dhuafa. Kepedulian terhadap kaum dhuafa sangat dianjurkan dalam agama kita.
Firman Allah : Araaytallazi yukazzibu biddin, Fazalikallazi yadu’ulyatim. Wala yahudhu’ala thaamil­miskin. (Tahu­kah kamu orang yang mendusta­kan agama. Itulah orang yang menghardik dan tidak peduli dengan anak yatim. Dan tidak menganjurkan dan memberi makan orang miskin).
Allah menegaskan kembali syariat kurban ini dalam surat alkautsar. Inna a’dhaina kalkautsar. Fashalli lirabbika wanhar. Innasya niaka hual abtar. (Sesungguhnya kami telah memberikan kepada mu nikmat yang sangat banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.......).
Rasulullah SAW sangat menekankan masalah kurban ini. Kurban disunnat muakkadkan bagi orang yang mampu. Rasulullah bersabda maksudnya. Jika seseorang dian­ta­ramu mampu melaksanakan kurban tetapi tidak melaku­kannya, janganlah mendekati tempat shalat kami.
Ibadah kurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasul, dan Ibadah kurban merupakan ibadah sosial sudah sangat difahami. Oleh karenanya sejak dari Nabi Adam, syariat kurban telah dilaksanakan sampai sekarang ini.
 Tetapi anehnya hadirin,  saat ini ada pikiran dari seke­lompok orang Islam untuk mengganti ibadah kurban da­lam bentuk hewan kepada mengumpulkan biaya dalam bentuk uang. Kelompok ini berpikiran bahwa di Indonesia biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat muslim untuk kurban mencapai lebih dari 3 trilliun setiap tahun. Pikiran mereka, jika kurban dalam bentuk hewan peman­faatan­­nya hanya dalam satu sampai 3 hari saja, selanjutnya dibuang dalam bentuk kotoran. Kelompok ini berfikiran kurban tidak perlu dalam bentuk hewan, tetapi kurban di­alihkan dalam bentuk uang saja, sehingga dana yang ter­himpun sekitar 3 Trilliun per tahun ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan. ......... Astagfirullah. Ini pikiran-pikiran dangkal yang hanya menggunakan logika saja dan itulah yang berkembang saat ini. Pikiran sejenis itu dipelopori oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya intelektual. Bukan hanya itu, Hajjipun menurut pikiran mereka tidak per­lu dilakukan berulang, cukup sekali saja. Jika dilakukan berulang itu hanya membuang-buang uang dan memper­kaya orang Arab saja.
Pikiran-pikiran ini sudah mulai berkembang di Aceh. Dan ini perlu diwaspadai dan dicegah. Agama akan rusak jika setiap syariat diterjemahkan sesuai dengan akal logika.
Syariat kurban tidak bisa ditukar dengan apapun. Rasulul­lah SAW mengatakan kurban dilakukan dengan menyem­belih hewan. Kenapa hewan disembelih, karena  pada saat Ibrahim melaksanakan perintah Allah menyembelih Ismail, Allah gantikannya dengan hewan sembelihan. Oleh karena itu, syariat kurban dilakukan dengan penyem­be­lih­an hewan. Ada kurban dalam bentuk hewan unta, ada yang dalam bentuk sapi dan kerbau yang disyariatkan untuk 7 orang, kambing, biri-biri, dan kibas untuk 1 orang, dsbnya. Itu ketentuan yang telah ada. Tidak bisa diganti dengan apapun. Syariat harus ditegakkan. Dan pikiran-pikiran kebablasan seperti itu yang saat ini sudah mulai masuk ke Aceh perlu dicegah, sehingga sendi-sendi aga­ma tidak rusak.
Allahu Akbar 3 X  Walillahilham
Rasulullah saw bersabda: Apabila seorang laki-laki me­miliki 3 orang anak, memberikan hak-haknya dengan adil, memberikan kasih sayang dengan baik dan men­didiknya dengan benar maka ia bersamaku dalam syur­ga (fil jannah). Sahabat bertanya. Ya Rasul bagaimana kalau dua orang. Apabila seorang laki-laki memiliki 2 orang anak, memberikan hak-haknya dengan adil, mem­berikan kasih sayang dengan baik dan mendidiknya dengan benar, maka ia bersamaku dalam syurga. Dan apabila seorang laki-laki memiliki 1 orang anak, mela­ku­kan hal yang sama, maka ia bersamaku dalam syurga.
Hari-hari ini, keadaan dan kemampuan menjalankan sya­riat agama di kalangan masyarakat kita makin terasa sangat rendah. Kemampuan mehamami agama di kalang­an masyarakat kita sudah sangat mengkha­watir­kan. Gejala seperti itu sudah terlihat bukan hanya saat ini. Ge­ja­la itu sudah cukup lama. Survey yang dilakukan oleh ke­lompok Mahasiswa Islam bekeraja sama dengan orga­ni­sa­si pemuda lainnya menunjukkan gejala masyarakat Aceh terutama  golongan muda meninggalkan syariat  dan ke­wa­­ji­ban dalam beragama sudah terjadi bukan hanya di kota tetapi juga telah terjadi degradasi sampai ke kam­pung-kampung. Dulu orang beranggapan di kota orang banyak yang tidak taat. Tetapi saat ini keadaan itu telah menjalar ke desa-desa. Orang terutama generasi muda merasa bangga jika melanggar ketentuan agama. Orang merasa telah moderen jika tidak shalat dan tidak puasa. Malah dengan terang-terangan dipernampakkan di depan umum. Anak muda kita bahkan juga sebahagian orang tua merasa bangga jika mabok dan teler minuman keras, teler karena narkoba dan sejenisnya. Ini gejala-gejala yang sa­ngat mengkhawatirkan.
Rasulullah SAW bersabda, jika seseorang dengan sengaja meninggalkan shalat dan ia tahu bahwa itu kewajiban yang diperintahkan atasnya, qad kafara jihara, sungguh telah menjadi kafir yang nyata.
Aqidah sebahagian generasi muda kita sudah sangat dang­kal. Pemahaman kepada Tuhan dan rasulnya sangat ren­dah. Sehingga kondisi labil seperti itu sangat mudah di­pengaruhi oleh faham lain. Karena itu, tidak meng­he­ran­kan jika beberapa waktu lalu ada yang murtad di Aceh Barat. Dan mungkin yang murtad terselubung itu lebih ba­nyak lagi. Kita bisa saja terkejut dengan adanya berita  orang murtad. Kita bisa gundah karena munculnya sekte menyimpang di Bireun yang disebut dengan kelompok sekte MILLATA ABRAHAM yang tidak mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Kita juga bisa terkejut dengan adanya faham-faham aneh lainnya yang berkembang da­lam masyarakat. Faham itu lebih mengedepankan logika, le­bih mengedepankan  hal  yang bisa diraba, bisa dilihat dan yang mampu difahami. Kelompok ini cenderung me­na­fikan hal yang ghaib. Justru agama Islam didirikan atas kemampuan untuk beriman kepada yang ghaib itu. Orang saat ini ragu terhadap dosa dan pahala, sebahagian orang hari ini telah mulai ragu terhadap adanya syurga dan ne­raka, dan hal-hal lain yang  tidak bisa dijangkau akalnya.
Firman Allah : Zalikal kitabula raibafihi hudallil mut­taqin. Allazi nayukminuna bilghaibi wayuqimunash­shalata wa­mimma razaknahum yumfiqun. (demi­kian­lah kitab Al­qu­r­an yang tidak ada ragu padanya dan menjadi petunjuk bagi orang taqwa.  yaitu Orang yang beriman dengan yang ghaib, dan mendirikan shalat dan mengeluarkan sebahagian dari rizki mereka).
Kebanyakan kita hari ini tidak banyak peduli lagi dengan menegakkan syariat agama. Syariat Islam cukup dibu­ku­kan dalam Qanun. Syariat Islam  cukup hanya dalam ben­tuk tulisan Arab Melayu di papan pamlet nama bangunan. Selebihnya tidak ada makna. Banyak masyarakat dan juga pemimpin meninggalkan perintah Allah. Allah telah ingat­kan kita dengan berbagai macam peringatan. Allah kasih kita bala. Negara kita saat ini telah dirundung bala. Ada Tsunami Aceh yang tergolong terbesar di dunia, gempa diberbagai tempat, banjir, gunung meletus dan berbagai macam peringatan yang secara hati jernih tak mampu kita tangkap sebagai peringatan Tuhan.
Firman Allah dalam Surat Al A’raaf (79): Lahum qulubun la yafqahu nabiha. (mereka punya hati, tetapi tak mau memahaminya)
Dan dalam surah Yasin Allah berfirman: Walaqad adhallamingkum jibillan kastira. Afala takunu ta’qilun. (Sesungguhnya Syaithan telah menyesatkan sebahagian diantaramu. Apakah kamu tidak memikir­kannya).
Boleh jadi, hati sebahagian masyarakat kita telah tertutup dari petunjuk. Dan itu bisa dibuka kembali dengan bimbi­ng­an. Pemerintah harus mengambil bahagian nyata da­lam menegakkan syariat di masing-masing tingkatan.
Rasulullah SAW bersabda. Jika ada kemungkaran, jika me­liliki kemampuan cegahlah dengan kuatan tangan, jika tidak mampu, cegahlah dengan lisan. Dan jika tidak mampu cegahlah dengan hati, itu yang selemah-lemah iman. Hadis ini dapat diaplikasikan dalam kenyataan. Yang memiliki kekuasaan cegah kemungkaran dengan ke­ku­asaannya. Pemerintah yang memiliki kekuasaan tegak­kan syariat itu secara baik. Jangan pejabat pemerintah yang merusak syariat. Jika ini yang terjadi merupakan bala yang sangat besar.
Firman Allah: Wain nasyak nughriqhum fala sharikha­lahum, walahum yunkhazun. Illa rahmatan minna wa­ma­ta’an ilahin. (Jika kami menghendaki, nisyaya kami teng­gelamkan mereka yang berbuat ingkar, maka tidak­lah ada bagi mereka pertolongan dan tidaklah ada bagi mereka keselamatan. Illa rahmatan minna wamata’an ilahin. Tetapi kami selamatkan mereka karena rahmat dari kami dan untuk memberikan kesenangan sampai pada suatu ketika).
Dalam ayat yang lain Allah sampaikan kepada manusia, jika Allah menurunkan bala atau siksa karena durhaka sebahagian penduduk, maka bala dan siksaan itu akan dialami oleh seluruh orang (Anzalallahu biqaumin asha­ba, azaaban ankana fihim). Dan bala-bala yang diturun­kan Allah sudah kita rasakan secara bertubi-tubi, baik di Aceh maupun secara nasional di Indonesia.
Allahuakbar 3x Walillahilham.
Sekarang untuk menguatkan iman dan menegakkan pe­maham­an  terhadap agama yang diridhai oleh Allah SWT tidak ada jalan lain semua orang tua harus menaruh per­hatian kepada pendidikan agama anaknya. Anak kita harus diisi aqidahnya secara benar. Pendidikan anak harus dilakukan seimbang antara pendidikan dengan pema­ham­an aqidah. Pendidikan anak secara luas tidak dilarang. Si­lakan didik anak untuk mendapatkan ilmu seluas-luasnya, karena Allah ciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tetapi perlu diwujudkan keseimbangan pengetahu­an aqidah, akhlak dan pengetahuan-pengatahuan lain se­ca­ra baik. Keseimbangan itulah yang mampu meng­ha­sil­kan pemimpin yang baik, berakhlak dan jujur.
Mendidik anak secara baik merupakan amanah Allah dan kewajiban yang harus dilaksanakan dan merupakan tang­gung jawab orang tua. Setelah orang tua, selanjutnya me­rupakan tanggung jawab pemerintah. Masing-masing pi­hak punya tanggung jawab.
Rasulullah SAW bersabda: Kullukum Ra’ain. Wakullukum mas ulun arra’aiyyatih. (setiap anda itu pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban dari apa yang anda pimpin).
Masyarakat yang taat, yang taqwa, apa lagi yang dipimpin oleh pemimpin yang taqwa, yang jujur, perkataan sama dengan perbuatan akan mampu membawa kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.
Allah berfirman:
Walau Anna ahlal qura amanu wattaqau lafatahna ‘alai­him barakatim minassamai walardh. (Jika ada masyara­kat suatu daerah beriman dan taqwa Allah akan turun­kan berkat dari langit dan dari bumi).
Untuk menghindari pendangkalan aqidah masyarakat kita, pemerintah dan berbagai pihak harus mengambil sikap dan upaya yang tegas. Pemahaman agama harus dimulai dari pejabat pemerintah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Umar ibnu al aziz, khalifah Islam pada abad pertengahan yang adil dan taat sehingga meng­ha­sil­kan masyarakat yang tenteram. Bukan hanya manusia, binatangpun hidup tenang. Diceriterakan bahwa, selama khalifah yang adil ini memimpin serigalapun tidak akan me­mangsa domba peliharaan masyarakat. Jika pemimpin memberikan ciri urakan dan tak bisa dicontoh, maka ke­adaan rakyat  juga akan memunculkan gambaran seperti itu pula.
Allahuakbar 3X Walillahilham.
Di akhir khutbah ini khatib ingin sampaikan apa yang telah dinuqilkan Allah dalam Alquran yang patut kita simak dan kita laksanakan dalam kehidupan kita. Luqmanul Hakim mewasiatkan kepada anaknya :
Faizqala Luqmanu liibnihi wahuwa yaiedhuhu: ya bu­nayya latusyrik billah. Innasyirka ladhulmun ‘adhim. (dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya : Wahai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya Musyrik itu benar-benar kedhaliman yang besar).
Pada ayat yang lain Allah nukilkan wasiat Ibrahim dan Ya’qub kepada putranya:
Wawasha biha Ibrahimu banihi wa Ya’quba: Ya bunayya, innallahasthafa lakumuddina, fala tamutunna illa wa­antum muslimum. (Ketika Ibrahim dan juga Ya’qub me­wa­siat­kan kepada anaknya: wahai anakku, sesung­guh­nya Allah telah memilih Islam sebagai agamamu, maka janganlah kamu mati kecuali sebagai muslim).
Katika Ya’qub akan wafat ia berwasiat kepada anaknya: Mata’buduna mimba’di, (apa yang kamu sembah setelah aku tidak ada lagi).
Ini beberapa wasiat yang diucapkan oleh Auliya Allah dan Rasul Allah yang sangat patut kita simak dan kita contoh dalam kehidupan masyarakat Aceh hari ini. Tanpa ada mengembalikan martabat Aceh sebagai penganut Islam yang baik, yang dari dulu dikenal sebagai Serambi Mekkah, maka Aceh ini akan berubahlah bentuknya dari daerah yang  bertabur mesjid, berubah menjadi bertabur ........ entah apa nantinya.
Oleh karena itu, sebagai penutup kutbah ini Allah ajarkan kita suatu doa yang patut kita amalkan sehingga kehidu­p­an kita terbimbing ke jalan yang baik.
Qul Rabbi adkhilni mudkhalashidqin, waakhrijni mukh­raja shidqin, waj’alli milladun kashulthanan nashira. (Ya Tuhan, Tunjukilah kami jalan yang benar, dan keluar­kan­lah kami melalui tempat yang benar, dan jadikanlah bagi kami kekuasaan dari sisimu yang dapat menolong).
Wallahua’lam bisshawab, wailaihil marji’u wal maab.
Baraqallahu liwalakum filqur’anilkarim, wanafa’ani waiy­yakum bihi minal ayati wazikril hakim, wataqabbala minni wa minkum tilawatahu innahu huassamiun bashir. Innahu jawadun karimum malikum barrurraufurrahim.
                                   Blangpidie, 17 Nopember 2010.
                                    
                                      Tgk. Ir. H. SIlman Hamidi, MSi
(Pimpinan Dayah Raudhatul Ulum Alue Pisang, Kuala Batee Aceh Barat Daya Prov. Aceh.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar