ULASAN HAMA PENTING TANAMAN PADI
Pembaca
yang budiman.
Blogspot Dayah Raudhatul Ulum Alue Pisang
Kuala Batee Aceh Barat Daya kali ini sebagai lanjutan
Petunjuk Praktis mengeluarkan kajian sederhana tentang hama pada tanaman
padi.
Dalam terbitan ini dibahas tentang beberapa
jenis hama
tanaman padi dan dilengkapi pula secara sederhana cara
penanggulangannya. Tentu saja uraian ini disajikan dengan cara mudah dan praktis dapat diterapkan oleh
pihak yang berminat. Teknologi tersebut sudah diterapkan di daerah lain dapat
memberi hasil yang cukup baik. Karena itu, kami mengharapkan terbitan ini dapat
membantu berbagai pihak dalam mengelola usahataninya.
Redaksi
mengupayakan petunjuk praktis yang seperti ini akan dikeluarkan secara berkala.
Setiap diterbitkan membahas satu topic dengan ulasan sederhana dan mudah
dipahami.
Semoga
saja upaya ini mendapatkan sambutan yang cukup baik dari pembaca. Saran dan
upaya penyempurnaan dari berbagai pihak sangat dihargai. SALAM.
Redaksi
I. ULAT GRAYAK
Hampir di berbagai tempat pada waktu-waktu
tertentu, tanaman padi sering diganggu oleh ulat grayak. Dan, pada saat
gangguan berat sebahagian besar tanaman padi rusak. Tanaman patah terkulai dan
jika serangan terjadi pada tanaman yang telah keluar malai maka pangkal malai
patah sehingga padi gagal panen. Karena gangguannya yang kadang-kadang
menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, maka ulat grayak tergolong salah
satu hama penting tanaman padi.
Ulat ini sesungguhnya dapat menyerang bukan
hanya padi tetapi banyak tanaman lain misalnya kacang-kacangan, sayuran dan
bahkan termasuk juga gulma.
Sebenarnya ulat grayak adalah bahagian dari
siklus hidup kupu-kupu. Fase berbahaya dari hidupnya itu adalah pada saat
dalam bentuk ulat. Karena selama periode ulat, ia akan memotong bahagian
tanaman sehingga tanaman mati.
Ada beberapa jenis ulat yang digolong grayak, walaupun sesungguhnya antara satu
dengan lainnya saling berbeda. Ditilik dari gejala serangan, cara hidup dan
tingkat kerusakan, maka ada 4 jenis
ulat grayak yang sering mengganggu tanaman pertanian terutama padi.
1. Ulat Grayak Kelabu (Pseudoletia
unipuncta)
Cara hidup
Ulat ini merupakan bahagian dari siklus hidup
kupu-kupu kecil. Kupu-kupu dewasa meletakkan telurnya pada tanaman padi. Lima
hari kemudian telur menetas menjadi larva berbentuk ulat. Fase ulat inilah yang
berbahaya karena merusak tanaman pertanian terutama padi. Lamanya stadium
larva ulat tersebut sekitar 20 sampai 28 hari.
Ulat ini tergolong kecil, panjang sekitar 1,8
mm dan lebar 0,3 mm. Kepala ulat grayak jenis ini berwarna coklat hitam, abdomennya
(bahagian tubuh lainnya) bergaris-garis halus.
Ulat akan keluar dari persembunyiannya
yang teduh, lembab dan dingin pada malam hari. Jadi gangguan yang terjadi
adalah malam hari. Jika jumlah banyak, kerusakan biasa sangat luas dalam
waktu singkat. Sedangkan pada siang
hari, ulat bersembuni dibahagian
pangkal tanaman, atau dibawah rerumputan, jerami atau bahagian sisa tanaman lainnya.
Gejala serangan
-
Menyerang tanaman padi dari fase muda sampai sudah terbentuk
malai.
-
Tanaman padi dipotong sehingga tanaman mati.
-
Pada serangan berat tanaman dipotong sampai ke pangkal batang.
-
Jika tanaman telah keluar malainya, malai dipotong putus.
2.
Ulat Grayak
Coklat Hitam
(Spodoptera mauritia)
Cara hidup
Kupu-kupu dewasa bertelur di bahagian bawah
daun padi. Telur berbentuk bulat berwarna putih kekuning-kuningan berukuran 1
mm. Selama 2 -4 hari telur menetas dan menjadi larva. Pada saat larva inilah
merusak tanaman. Ulat pada siang hari akan turun ketanah dan bersembunyi dipangkal
batang padi. Stadium ini selama 10 – 14
hari.
Gejala serangan
·
Ulat umumnya menyerang tanaman muda.
3.
Ulat Grayak
Bergaris
Kuning (Spodoptera exempta)
Telur berwarna kelabu dengan stadium 3 – 4
hari. Larwa dewasa berwarna hitam, punggung dan sisinya bergaris kuning.
Panjang larva 35 – 40 mm. Ulat ini dapat menyerang pada siang dan malam hari.
Gejala serangan
Serangan awal pada daun dan selanjutnya
memotong juga batang tanaman.
4.
Ulat Grayak
Bawang (Spodoptera)
Ulat ini khusus menyerang tanaman bawang
merah terutama merusak daun. Jaringan daun bahagian bawah dekat umbi dirusak
sehingga daun kering. Bahagian daun yang telah rusak akan kelihatan berwarna
putih dan terkulai lemas.Pada serangan berat umbi bawang juga dirusak.
Cara Mengatasinya;
·
Lakukan pengelolaan usahatani sesuai dengan iklim.
·
Penanaman padi tandur jajar.
·
Pada areal beririgasi, masukkan air pengairan secukupnya,
·
Biarkan musuh-musuh hama alami seperti laba-laba, dll berkembang
di lahan sawah.
·
Jika serangan berat lakukan penyemprotan dengan insektisida.
Penggunaan insektisida secukupnya. Dosis dan jumlah jangan berlebih sehingga
tidak menimbulkan kerusakan pada musuh alami. (Eshar, 2013).
II.
PENGENDALIAN HAMA TIKUS
Hama utama tanaman padi
adalah tikus. Tikus
dapat merusak tanaman padi dalam hamparan yang luas dalam waktu yang tidak
lama. Sering petani kecewa, karena dalam satu sampai dua hari tanaman padi yang
tumbuh rimbun musnah seketika.
Karena petani tidak kompak dalam berusahatani. Petani padi
belum sepakat untuk menanam serentak, belum sekata dalam memburu tikus, dan
belum sepakat untuk berusahatani secara baik. Selama petani belum seia sekata,
tikus tetap masih menjadi hama utama.
Kenapa demikian ? karena :
·
makanan
selalu tersedia sehingga tikus dapat berkembang biak secara terus menerus.
·
Gotong
royong tidak dilakukan bersama maka sarang dan lubang tikus tetap terlindungi
sehingga ia akan tetap aman untuk berbiak.
·
Pengendalian
tikus tidak dilakukan secara teratur.
· Musuh alami makin kurang.
Tikus berkembang dengan
cepat.
Tikus dapat tinggal pada banyak tempat, Semak belukar,
pematang, pinggir jalan, tanggul irigasi, dan potongan-potongan bambu yang
terbuang di pinggir-pingir kebun atau sawah.
Kemampuan berkembang biaknyapun luar biasa. Masa bunting
hanya 19 – 25 hari dengan sekali beranak sampai lebih dari 10 ekor. Dan,
setelah satu sampai dua hari setelah melahirkan, tikus sudah dapat kawin lagi.
Karena itu, sepasang tikus dapat menghasilkan 1000 ekor keturunannya dalam satu
tahun.
Bagaimana cara mengatasinya.
·
Petani
harus sepakat dan kompak dalam berusahatani.
·
Petani
tergabung dalam kelompoktani yang kuat.
·
Tanam
serentak dengan terapan teknologi yang tepat.
Pengendalian tikus.
Ada beberapa cara pengenndalian tikus.
·
Memanfaatkan
dan melindungi musuh alami.
·
Gotong
royong membersihkan lingkungan.
·
Berburu
tikus setiap saat secara teratur. Memasang umpan beracun, menggunakan petasan,
asap karbit, pengomposan, dan berbagai usaha pengendalian lainnya.
Berburu dengan asap dan racun
Tentu petuah “mencegah kerusakatan tanaman melalui pengendalian berkembang hama
adalah lebih baik dari pada memberantas dengan kimia”. Tetapi jika sudah
menjadi wabah dan gangguan berat, maka pengendalian secara kimiapun harus
dilakukan.
Menggunakan Mercon Asap.
Dapat dilakukan secara bersama. Mercon dibakar dan diletakkan
ke dalam lubang. Mercon akan meledak di dalam lubang sehingga lubang akan dipenuhi asap belerang.
Cara ini tikus akan mati seluruhnya yang ada di dalam lubang. Syaratnya
semua lubang keluar ditutup sehingga tikus tidak lari melalui lubang lain yang
tersembunyi.
Perangkap Bambu.
Bambu kering diletakkan ditempat-tempat tertentu pada sore
hari, dan pagi hari diambil seluruh tikus dibunuh.
Berburu
Kekompakan petani sehamparan malahan sewilayah keujruen untuk
berburu tikus sangat penting. Apapun yang dilakukan jika petani tidak kompak
dalam mengatasi hama ini, pengendalian apapun yang dilakukan tidak memberi
hasil maksimal. Bukankah pengendalian hama itu kebutuhan bersama. Kenapa masih
ada sebahagian kita kurang mengambil bahagian.
(Eshar, 2013).
![]() |
III. PENGENDALIAN KEONGMAS
Perkembangan hama ini sangat cepat. Dari telur hingga menetas
hanya butuh waktu 4 – 7 hari. Di samping itu, 1 ekor keongmas betina mampu
menghasilkan 15 kelompok telur dalam
satu siklus hidup (60-80 hari) dan masing-masing kelompok telur berisi 300 –
500 butir telur. Seekor keongmas dewasa mampu menghasilkan 1000 – 1200 telur
per bulan. Kerugian yang ditimbulkan hama ini cukup besar. Pada kepadatan
populasi tinggi, kerusakan tanaman padi muda sampai beberapa ratus hektar
dalam seminggu.
Hama ini tergolong ganas. Keongmas muda (ukuran kecil sampai
sedang) tergolong paling ganas menyerang tanaman padi baik di persemaian
maupun tanaman padi di sawah dibandingkan dengan keongmas dewasa.
Cara Pengendalian
Hama keongmas tergolong sulit untuk dibasmi secara tuntas.
Bila pengendalian dilakukan dengan menggunakan pestisida, keongmas memang dapat
terbunuh, tetapi cangkang atau rumahnya tertinggal di lahan sawah dan
menjadi masalah bagi petani karena dapat melukai kaki. Pengendalian yang
dianggap efektif dan dapat mengurangi atau menekan perkembangan keongmas di
lahan sawah adalah pengendalian secara biologi dan mekanik. Karena
pengendalian secara ini tidak merusak lingkungan, kerjanya praktis, mudah dilaksanakan dan murah.
![]() |
Pemasangan Perangkap
Telur
Di lahan sawah dipasang tiang-tiang perangkap telur. Tiang
perangkap telur terbuat dari kayu, bambu, pelepah rumbia, ranting-ranting
dsbnya.
Panjang tiang perangkap telur 1 – 1.5 m dengan diameter 1 – 3
cm. Tiang perangkap telur ditancap di areal sawah dengan jarak dari pematang 1
m dan jarak antar tiang 2 – 3 m. Jumlah tiang perangkap tidak terbatas. Makin
banyak makin baik. Telur yang ada pada tiang perangkap dibuang setiap 2 – 3
hari sekali, dengan cara melepaskan dari tiang perangkap dan membenamkan ke
dalam air atau lumpur.
Umpan Perangkap dan
Pemungutan Berkala.
Pengendalian dengan umpan perangkap serta dikombinasikan dengan
pemungutan dapat menekan perkembangan hama ini secara signifikan. Apalagi
pemberian umpan perangkap dikombinasikan dengan perangkap telur sangat
besar pengaruhnya terhadap menekan perkembangan hama ini.
Umpan perangkap dapat digunakan dari daun-tangkai-batang
papaya, daun kuda-kuda (on geurundoeng
pageu), dll.
![]() |
Di sekitar pematang selebar 0.5 – 1 m dibuat lebih dalam. Di
daerah itu, diletakkan makanan perangkap secara berjejer baik sebelum atau
setelah padi ditanami sampai umur padi 5 minggu. Jarak antara satu umpan
perangkap dengan yang lain 1 – 2 m dan banyaknya umpan perangkap tergantung
pada persediaan dan populasi hama. Selanjutnya keongmas yang terdapat pada
umpan dipungut dan dibuang secara berkala. Jika sore diletakkan, maka pagi
dipungut. Sangat dianjurkan, keongmas hasil pungutan tersebut dipecahkan
cangkangnya dan dicampur dengan dedak dijadikan makanan itik.
Pelepasan Itik di Lahan
Sawah
Pengendalian cara ini merupakan pengendalian alamiah. Itik
dilepas bergerombol ke sawah sejak sebelum tanam sampai umur tanaman 45 hari. Itik akan mengendalikan hama ini dan
tidak merusak tanaman. Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian, areal
sawah dibuat macak-macak. Dalam 1 ha dapat dilepaskan itik sekitar 25 ekor atau
lebih. Itik dilepas pagi dan sore hari. Dengan cara ini hama keongmas dapat
ditekan sehingga tidak lagi merusak tanaman.
(Eshar, 2013).
![]() |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar