Rabu, 02 Oktober 2013

ULASAN HAMA PENTING TANAMAN PADI



ULASAN HAMA PENTING TANAMAN PADI
Pembaca yang budiman.
 Blogspot Dayah Raudhatul Ulum Alue Pisang Kuala Batee Aceh Barat Daya kali ini sebagai lanjutan Petunjuk Praktis mengeluarkan kajian sederhana tentang hama pada tanaman padi.
 Dalam terbitan ini dibahas tentang beberapa jenis hama tanaman padi dan dilengkapi pula secara sederhana cara penanggulangannya. Tentu saja uraian ini disajikan dengan cara mudah dan praktis dapat diterapkan oleh pihak yang berminat. Teknologi tersebut sudah diterapkan di daerah lain dapat memberi hasil yang cukup baik. Karena itu, kami mengharapkan terbitan ini dapat membantu berbagai pihak dalam mengelola usahataninya.
Redaksi mengupayakan petunjuk praktis yang seperti ini akan dikeluarkan secara berkala. Setiap diterbitkan membahas satu topic dengan ulasan sederhana dan mudah dipahami.
Semoga saja upaya ini mendapatkan sambutan yang cukup baik dari pembaca. Saran dan upaya penyempurnaan dari berbagai pihak sangat dihargai. SALAM.

Redaksi


I. ULAT GRAYAK
Hampir di berbagai tempat pada wak­tu-waktu tertentu, tanaman padi sering diganggu oleh ulat gra­yak. Dan, pada saat gangguan berat sebahagian besar tanaman padi rusak. Tanaman patah ter­kulai dan jika serangan terjadi pada tanaman yang telah keluar malai maka pangkal malai patah sehingga padi ga­gal panen. Karena gangguannya yang kadang-kadang menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, maka ulat grayak ter­go­long salah satu hama penting tana­man padi.
Ulat ini sesungguhnya dapat me­nye­rang bukan hanya padi tetapi banyak tana­man lain misalnya kacang-kacangan, sa­yuran dan bah­kan termasuk juga gulma.
Sebenarnya ulat grayak adalah ba­ha­gian dari siklus hidup kupu-kupu. Fase berbahaya dari hidup­nya itu adalah pa­da saat dalam bentuk ulat. Karena sela­ma pe­riode ulat, ia akan memotong ba­hagian tanaman sehingga tanaman mati.
Akibat Hama Padi 

Beberapa Jenis ulat grayak
Ada beberapa jenis ulat yang di­golong  grayak, walaupun sesung­guhnya antara satu dengan lainnya saling berbeda. Ditilik dari gejala serangan, cara hidup dan tingkat kerusakan,  maka ada 4 je­nis ulat grayak yang sering meng­ganggu tanaman pertanian terutama padi.
1.  Ulat Grayak Kelabu (Pseu­do­letia unipuncta)
Cara hidup
Ulat ini merupakan bahagian dari siklus hidup kupu-kupu kecil. Kupu-kupu de­wasa meletakkan telurnya pada tana­man padi. Lima hari kemudian telur menetas menjadi larva berbentuk ulat. Fase ulat inilah yang berbahaya karena merusak tanaman pertanian teru­tama padi. Lamanya stadium larva ulat ter­sebut sekitar 20 sampai 28 hari.
Ulat ini tergolong kecil, panjang sekitar 1,8 mm dan lebar 0,3 mm. Kepala ulat grayak jenis ini ber­warna coklat hitam, abdo­mennya (bahagian tubuh lainnya) bergaris-garis halus.
Ulat akan keluar dari persem­bunyi­an­nya yang teduh, lembab dan dingin pa­da malam hari. Jadi gangguan yang ter­ja­di adalah malam hari. Jika jumlah banyak, kerusakan biasa sangat luas dalam waktu  singkat. Sedangkan pada si­ang hari, ulat  bersembuni diba­hagian pangkal tanaman, atau dibawah rerum­putan, jerami atau bahagian  sisa tana­man lainnya.
Gejala serangan
-      Menyerang tanaman padi dari fase muda sampai sudah ter­bentuk malai.
-      Tanaman padi dipotong sehing­ga tana­man mati.
-      Pada serangan berat tanaman di­­potong sampai ke pangkal batang.
-      Jika tanaman telah keluar ma­lainya, malai  dipotong putus.

2.        Ulat Grayak Coklat Hitam
(Spodoptera mauritia)
Cara hidup
Kupu-kupu dewasa bertelur di baha­gian bawah daun padi. Telur berbentuk bu­lat berwarna putih kekuning-kuning­an berukuran 1 mm. Selama 2 -4 hari telur menetas dan menjadi larva. Pada saat larva inilah merusak tanaman. Ulat pada siang hari akan turun ketanah dan bersembunyi di­pangkal batang padi. Stadium ini selama  10 – 14 hari.


Gejala serangan
·           Ulat umumnya menyerang ta­naman muda.

 

 Awal serangan pada umumnya pada daerah pinggir pematang dan kemu­dian menyebar ke bahagian tengan sawah.


3.         Ulat Grayak Bergaris
 Kuning (Spodop­tera exem­pta)
Telur berwarna kelabu dengan stadium 3 – 4 hari. Larwa dewasa berwarna hitam, punggung dan sisinya bergaris kuning. Panjang larva 35 – 40 mm. Ulat ini dapat menyerang pada siang dan malam hari.
Gejala serangan
Serangan awal pada daun dan selan­jutnya memotong juga ba­tang tanaman.

4.        Ulat Grayak Bawang (Spo­dop­tera)
Ulat ini khusus menyerang ta­naman bawang merah terutama merusak daun. Jaringan daun bahagian bawah dekat umbi di­rusak sehingga daun kering. Ba­hagian daun yang telah rusak akan kelihatan berwarna putih dan terkulai lemas.Pada serangan berat umbi ba­wang juga dirusak.
Cara Mengatasinya;
·           Lakukan pengelolaan usaha­tani se­suai dengan iklim.
·           Penanaman padi tandur jajar.
·           Pada areal beririgasi, masuk­kan air pengairan secukupnya,
·           Biarkan musuh-musuh hama alami seperti laba-laba, dll berkembang di lahan sawah.
·           Jika serangan berat lakukan pe­nyem­protan dengan insektisida. Peng­gu­naan insek­tisida secukup­nya. Dosis dan jumlah jangan ber­lebih se­hingga tidak menimbulkan kerusakan pada musuh alami. (Eshar,  2013).



II. PENGENDALIAN HAMA TIKUS
Hama utama tanaman padi adalah tikus. Tikus dapat merusak tanaman padi dalam hamparan yang luas dalam waktu yang tidak lama. Sering petani kecewa, karena dalam satu sampai dua hari tanaman padi yang tumbuh rimbun musnah seketika.
TIKUS 


Kenapa tikus masih menjadi hama serius.
Karena petani tidak kompak dalam ber­usahatani. Petani padi belum sepakat un­tuk menanam serentak, belum sekata da­lam memburu tikus, dan belum sepakat untuk berusa­hatani secara baik. Selama petani belum seia sekata, tikus tetap ma­sih menjadi hama utama.
Kenapa demikian ? karena :
·        makanan selalu tersedia se­hingga tikus dapat berkembang biak secara terus menerus.
·        Gotong royong tidak dilakukan ber­sama maka sarang dan lubang tikus tetap terlindungi sehingga ia akan te­tap aman untuk ber­biak.
·        Pengendalian tikus tidak dilaku­kan se­cara teratur.
·     Musuh alami makin kurang.

Tikus berkembang dengan cepat.
Tikus dapat tinggal pada banyak tempat, Semak belukar, pematang, pinggir jalan, tanggul irigasi, dan potongan-potongan bambu yang terbuang di pinggir-pingir kebun atau sawah.
Kemampuan berkembang biak­nyapun luar biasa. Masa bunting hanya 19 – 25 hari dengan sekali beranak sampai lebih dari 10 ekor. Dan, setelah satu sampai dua hari setelah melahirkan, tikus sudah dapat kawin lagi. Karena itu, sepasang tikus dapat menghasilkan 1000 ekor keturunannya dalam satu tahun.
  Bagaimana cara mengatasinya.
·        Petani harus sepakat dan kom­pak da­lam berusahatani.
·        Petani tergabung dalam kelom­poktani yang kuat.
·        Tanam serentak dengan terapan tek­nologi yang tepat.

Pengendalian tikus.
Ada beberapa cara pengenndalian tikus.
·        Memanfaatkan dan melindungi  mu­suh alami.
·        Gotong royong membersihkan ling­kung­an.
·        Berburu tikus setiap saat secara teratur. Memasang umpan bera­cun, menggunakan petasan, asap karbit, pe­ngomposan, dan ber­bagai usaha pengendalian lain­nya.

Berburu dengan asap dan racun
kader-pks-bersama-warga-buru-tikusTentu petuah “mencegah kerusa­katan tanaman melalui pengen­dalian berkem­bang hama adalah lebih baik dari pada memberantas dengan kimia”. Tetapi jika sudah menjadi wabah dan gangguan be­rat, maka pengendalian secara kimiapun harus dilakukan.


















Menggunakan Mercon Asap.
Dapat dilakukan secara bersama. Mercon dibakar dan diletakkan ke dalam lubang. Mercon akan meledak di dalam lubang  sehingga lubang akan dipenuhi asap be­lerang. Cara ini tikus akan mati se­lu­ruhnya yang ada di dalam lubang. Sya­ratnya semua lubang keluar ditutup se­hingga tikus tidak lari melalui lubang lain yang tersembunyi.
Perangkap Bambu.
Bambu kering diletakkan ditempat-tem­pat tertentu pada sore hari, dan pagi hari diambil seluruh tikus dibunuh.
 Berburu
Kekompakan petani sehamparan malahan sewilayah keujruen untuk berburu tikus sangat penting. Apa­pun yang dilakukan jika petani tidak kompak dalam mengatasi hama ini, pengendalian apapun yang dilaku­kan tidak memberi hasil maksimal. Bukankah pengendalian hama itu kebu­tuhan bersama. Kenapa masih ada seba­hagian kita kurang me­ngam­bil bahagian.
(Eshar,  2013).  


22
 


















III.  PENGENDALIAN KEONGMAS
A 

Di Aceh keongmas banyak menimbul­kan ma­salah terutama dalam usaha­tani padi. Ting­kat serangan hama ini tergolong tinggi. Se­rangan berat umum­­nya terjadi di per­se­maian sam­pai tanaman berumur di bawah 4 MST. Pada tanaman dewasa, gangguan ke­ong­mas hanya terjadi pada anakan sehingga jumlah anakan produktif menjadi berkurang.
Perkembangan hama ini sangat cepat. Dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 4 – 7 hari. Di samping itu, 1 ekor keongmas betina mampu menghasil­kan  15 kelompok telur dalam satu siklus hidup (60-80 hari) dan masing-masing kelompok telur berisi 300 – 500 butir telur. Seekor keongmas dewasa mampu menghasilkan 1000 – 1200 telur per bulan. Kerugian yang ditim­bul­kan hama ini cukup besar. Pada kepadatan populasi tinggi, keru­sakan tanaman padi muda sampai be­berapa ratus hektar dalam seminggu.
Hama ini tergolong ganas. Keongmas muda (ukuran kecil sampai sedang) ter­golong paling ganas menyerang tanaman padi baik di persemaian maupun tanaman padi di sawah di­bandingkan dengan ke­ong­mas dewasa.
IMG_0003Cara Pengendalian
Hama keongmas tergolong sulit untuk dibasmi secara tuntas. Bila pengen­da­lian dilakukan dengan menggunakan pesti­sida, keongmas memang dapat ter­­bunuh, tetapi cangkang atau rumah­nya tertinggal di lahan sawah dan menjadi masalah bagi petani karena dapat melukai kaki. Pe­ngen­dalian yang dianggap efektif dan dapat mengurangi atau menekan per­kembangan keong­mas di lahan sawah adalah pengen­dalian secara biologi dan mekanik. Karena pengendalian secara ini tidak merusak lingkungan, kerjanya  prak­tis, mudah dilaksanakan dan murah.


IMG_0003
 













Pemasangan Perangkap Telur
Di lahan sawah dipasang tiang-tiang pe­rangkap telur. Tiang perangkap telur ter­buat dari kayu, bambu, pelepah rumbia, ranting-ranting dsbnya.
Panjang tiang perangkap telur 1 – 1.5 m dengan diameter 1 – 3 cm. Tiang pe­rangkap telur ditancap di areal sawah dengan jarak dari pematang 1 m dan jarak antar tiang 2 – 3 m. Jumlah tiang pe­rangkap tidak terbatas. Makin banyak makin baik. Telur yang ada pa­da tiang perangkap dibuang setiap 2 – 3 hari sekali, dengan cara melepaskan dari tiang perangkap dan membenam­kan ke dalam air atau lumpur. 
Umpan Perangkap dan Pemu­ngutan Berkala.
Pengendalian dengan umpan pe­rang­kap serta dikombinasikan de­ngan pe­mu­ngutan dapat menekan perkem­bangan hama ini secara signifikan. Apalagi pem­berian um­pan perangkap di­kom­binasikan de­ngan perangkap telur sangat besar pengaruhnya ter­ha­dap menekan perkem­bangan hama ini.
Umpan perangkap dapat digunakan dari daun-tangkai-batang papaya, daun kuda-kuda (on geurundoeng pageu), dll.


20070410WIEd
 











Di sekitar pematang selebar 0.5 – 1 m dibuat lebih dalam. Di daerah itu, di­letakkan makanan perangkap secara berjejer baik sebelum atau setelah padi ditanami sampai umur padi 5 minggu. Jarak antara satu umpan perangkap dengan yang lain 1 – 2 m dan banyaknya umpan perangkap tergantung pada per­sediaan dan populasi hama. Se­lanjutnya keongmas yang terdapat pada umpan dipungut dan dibuang secara berkala. Jika sore diletakkan, maka pagi dipungut. Sangat di­anjurkan, keongmas hasil pu­ngutan tersebut dipecahkan cangkangnya dan dicampur dengan dedak di­jadikan makanan itik.
Pelepasan Itik di Lahan Sawah
Pengendalian cara ini merupakan pe­ngendalian alamiah. Itik dilepas ber­ge­rombol ke sawah sejak se­belum tanam sampai umur tanaman 45  hari. Itik akan mengendalikan hama ini dan tidak me­rusak ta­naman. Untuk me­ningkatkan efek­tivitas pengendali­an, are­al sawah dibuat macak-macak. Dalam 1 ha dapat dilepaskan itik sekitar 25 ekor atau lebih. Itik dilepas pagi dan sore hari. Dengan cara ini hama keongmas dapat ditekan sehingga tidak lagi merusak tanaman.
(Eshar,  2013).


Telor keongmas
 
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar