Jumat, 11 Oktober 2013

Penyakit Padi



ULASAN SEDERHANA TENTANG  PENYAKIT PENTING TANAMAN PADI


Pembaca yang budiman.

Blogspot Dayah Raudhatul Ulum Alue Pisang Kuala Batee Aceh Barat Daya kali ini sebagai lanjutan Petunjuk Praktis mengeluarkan kajian sederhana tentang beberapa penyakit penting  pada tanaman padi.
Dalam terbitan ini dibahas tentang beberapa jenis penhyakit tanaman padi dan dilengkapi pula secara sederhana cara penanggulangannya. Tentu saja uraian ini disajikan dengan cara mudah dan praktis dapat diterapkan oleh pihak yang berminat. Teknologi tersebut sudah diterapkan di daerah lain dapat memberi hasil yang cukup baik. Karena itu, kami mengharapkan terbitan ini dapat membantu berbagai pihak dalam mengelola usahataninya.
Redaksi mengupayakan petunjuk praktis yang seperti ini akan dikeluarkan secara berkala. Setiap diterbitkan membahas satu topic dengan ulasan sederhana dan mudah dipahami.
Semoga saja upaya ini mendapatkan sambutan yang cukup baik dari pembaca. Saran dan upaya penyempurnaan dari berbagai pihak sangat dihargai. SALAM.

Redaksi




1.  PENGENDALIAN PENYAKIT TUNGRO PADA PADI

Tungro adalah salah satu penyakit tana­man padi yang tergolong ber­bahaya. jika se­rangan berat tanaman  tumbuh kerdil, bahkan seperti hangus, mati perlahan-lahan dan sama sekali tidak menghasikan (puso).
Penyakit ini bukan penyakit baru pada tanaman padi, melainkan sudah cukup lama. Tungro telah menyerang tana­man se­jak 1972, dan sampai sekarang serangannya masih menjadi faktor penghambat usaha­tani padi, karena tidak jarang menyebabkan puluhan hektar padi dalam se hamparan kering seperti hangus.
Penyakit tungro sebenarnya dise­babkan oleh virus yang dibawa oleh serangga wereng hijau dan juga wereng loreng. Wereng tersebut membawa virus dan tertinggal pada tanaman padi tak ubahnya seperti nyamuk pembawa ma­laria atau nyamuk pembawa demam ber­darah. Oleh karena itu, upaya pengen­daliannya harus ditujukan pada pengen­dali­an wereng dan eradikasi (pemus­na­han) tanaman yang terserang.
Tetapi yang paling penting adalah tin­dakan pencegahan. Upaya pen­cegahan tunggro dapat dilakukan dengan pena­naman varietas tole­ran, tanam serentak dan menjaga lingkungan.
Gejala Serangan
Sebenarnya tungro itu artinya kerdil (bahasa Tagalog). Rumpun tanaman yang terserang pertumbuhannya terhambat, dan warna daun be­rubah menjadi kuning jingga. Perubahan warna daun dimulai dari ujung daun meluas ke bahagian pangkal. Pada daun terlihat juga bercak-bercak berwarna coklat seperti karat. Gajala daun kuning pada tanaman muda dapat hilang karena bertambahnya umur tana­man seolah-olah tanaman seperti sudah sembuh. Tetapi kemudian daun tanaman berubah warna menjadi kuning kembali, per­tum­buhan tertekan dan tidak meng­hasilkan.
Gejala lain, helai daun dan pelepah daun memendek. Di bahagian ba­wah daun muda nampak terjepit oleh pelepah daun sehingga da­unnya terpuntir atau meng­gulung sedikit. Jika tanaman tumbuh lebih lanjut, malainya sangat pendek dan tidak terisi gabah. Jika infeksi pada tanaman tua (umur diatas 50 hst) kurang ber­pengaruh terhadap pro­duksi. Beberapa varietas yang ter­golong peka adalah IR64, Cisadane, Pelita dan perlu pula dicermati untuk varietas-varietas lainnya.
Penyebab Penyakit
Tungro penyakit padi yang dise­babkan oleh virus. Ada dua bentuk virus pe­nyebab penyakit yaitu virus berbentuk bola dengan garis tengah 30 nano meter, dan virus berbentuk batang dengan ukuran  150 sampai 350 x 35 nano meter.
Daur Perkebangan Penyakit
Wereng penular menghisap cairan ta­naman padi dan meninggalkan virus (prosesnya sama seperti nya­muk malaria atau nyamuk DBD). Yang perlu diingat bahwa we­renglah penular virus ini pada tanaman padi. Masa infeksi antara awal tertular sampai menampakkan gejala serangan berkisar antara 6 – 9 hari. Infeksi tungro dapat terjadi mulai dari persemaian. Pada sta­dium ini, tanaman sangat sensitive terhadap infeksi virus. Apabila in­feksi serangan virus terjadi pada stadium persemaian, maka gejala penyakit akan tampak pada tana­man umur 2 – 3 minggu setelah tanam. Tanaman muda yang ter­infeksi meru­pakan sumber inoku­lum utama. Dan, apabila tanaman telah menunjukkan ge­jala serangan, berarti seluruh bahagian tanaman telah terserang penyakit. Arti­nya, sudah tidak mungkin diobati lagi dan segera harus dicabut dan bakar. Oleh karena itu, upaya pencegahan hama we­reng dan juga berbagai hama-hama lain­nya perlu dilakukan secara baik, teren­cana dan ber­sama-sama dalam kelom­pok.
Pengendalian
Perinsip utama pengendalian hama dan penyakit dalam usahatani ada­lah system pengendalian hama-penyakit secara terpadu. Untuk mengenda­likan penyakit tungro juga harus dilakukan dengan cara terpadu yaitu eradikasi tanaman ter­serang dan tanaman inang di sekitar lahan, menggunakan varietas unggul yang tahan tungro, pengen­dalian serangga pe­nular, dan mene­rapkan system budidaya sehat de­ngan teknologi yang tepat serta menjaga kelestarian lahan. Prinsip lain yang harus dipegang adalah, “mencegah terjadi serangan hama dan penyakit dalam berusahatani lebih baik dari pada melakukan pengendalian dan pemberan­tasan penyakit yang telah menyerang”. Untuk itu, setiap usahatani harus dilaku­kan perencanaan yang benar dan penerapan teknologi yang tepat.
(Eshar,  2013).

------------------------------------------0000000000-----------------------------------------------

2.  PENYAKIT GARIS MERAH PADA DAUN PADI


Umumnya para petani belum me­naruh perhatian terhadap gangguan penyakit garis merah pada daun padi (red stripe). Penyakit ini  bukan penyakit baru pada tanaman padi. Sudah cukup lama dikenal. Gang­guan penyakit garis merah pada daun padi telah ditemukan sejak 1987. Kareana gangguannya  dapat sangat serius karena dapat meng­ganggu pengisian malai tana­man sehingga produksi turun drastis. Per­kembangan penyakit ini tergolong sangat cepat. Dalam satu tahun saja (1987 – 1988) semula hanya di­jumpai di Jawa Barat tetapi telah berkembang di Sumatera Utara, Bali, seluruh pulau Jawa dan bebe­rapa daerah lain. Pada serangan berat dapat meng­ganggu tanaman sampai diatas 70 % sehingga produksi turun. Walaupun gang­guan penyakit ini tidak mematikan tana­man, tetapi dapat menurunkan pro­duksi. Turun produksi karena di­sebabkan pema­tangan bulir tidak seragam, proses foto­sintesa tidak sepurna dan respirasi tana­man juga ter­ganggu.
Di Aceh gejala penyakit ini sering dijumpai tetapi masih dalam bentuk local, ekploisif rendah dan belum menarik perhatian petani. Walau­pun gangguannya belum berat, ke­was­padaan harus dilakukan untuk mencehag serangan yang lebih besar.                                                                             
Penyebab Penyakit
Penyakit garis merah pada daun padi disebabkan oleh bakteri ter­golong ke­dalam genus Pseudo­monas. Penularan bakteri umumnya terjadi melalui kontak langsung yaitu melalui benih, alat kerja (traktor, dsbnya), dan  manusia. Alat kerja dan manusia dapat membawa penyakit dari satu lahan ke lahan lainnya secara cepat. Oleh karena itu, sebaiknya alat kerja setelah digunakan pada sore hari harus dibersihkan. Cara ini bukan hanya untuk menghindari terbahawa hama – penyakit saja tetapi juga dapat meng­awetkan alat kerja.
Gejala Srangan
Gejala serangan penyakit ini per­tama muncul pada daun, kadang-kadang sering juga dijumpai pada bahagian pelepah daun terutama pada saat tanaman me­masuki fase pembungan dan premordia.
Gejala pertama  pada pelepah daun dapat diamati pada tingkat anakan maksimum pada bahagian bawah rumpun. Di bahagian ini ada bercak-bercak coklat kekuning-kungan atau coklat kemerahan. Sedangkan gejala  yang tampak pada saat tanaman sedang memasuki masa premordia dan pembungaan bercak-bercak tersebut dapat dilihat pada daun bendera, daun kedua dan ke tiga dari atas.
Gejala awal ditandai oleh timbulnya bercak pada daun berbentuk bulat atau bulat telur berwarna merah kekuning-kuningan atau merah coklat kekuning-kuningan. Coklat tersebut semula satu titik kecil yang terus membesar ber­bentuk bulat. Setelah ukurannya men­capai 3 – 5 mm perkembangannya memanjang kearah ujung daun sehingga ter­bentuk garis berwarna coklat dan lebarnya sama dengan gejala  awal. Kadang-kadang bercak tersebut juga berkembang ke arah pangkal daun. Daun yang terserang tampak ber­garis merah kekuning-kuningan dan kemudian me­ngering.
Akibat serangan penyakit ini proses fotosiresa  dan respirasai tanaman men­­jadi terganggu sehingga masa pembunga­an menjadi tidak serem­pak damn proses pengisian gabar dan pematangan bulir tidak serem­pak juga. Pada umumnya, serangan berat akan mudah diamati pada satu minggu sampai  10 hari setelah masa pembungaan.
Ada beberapa factor yang dapat mem­percepat perkembangan pe­nya­kit yaitu:
·        Suhu tinggi diatas 30 derajat celcius.
·        Kelembaban tinggi dengan su­hu panas.
·        Pemupukan tidak seimbang teru­tama unsure Nitrogen berlebihan.
Pengendalian
·        Gunakan varietas toleran.
·        Gunakan teknologi penyemaian jarang.
·        Pemindahan bibit tidak terlalu tua sebaiknya bibit telah dipindahkan ke lahan sawah pada umur 2 minggu.
·        Gunakan jarak tanam yang tepat dan jarang untuk menghindari lembab berlebih.
·        Premupukan berimbang sesuai de­­ngan dosis spesifik lokasi.
·        Sanitasi lingkungan secara baik. (Eshar,  2013).
--------------------------------0000000000000000000-------------------------------------------


3.   HAMA GANJUR DAN  PENGENDALIANNYA
PADA TANAMAN PADI

Hama ganjur merupakan salah sau hama penting pada tanaman padi, karena pada serangan berat kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit. Akibat serangan hama ini tanaman padi tidak tumbuh sem­purna, titik tumbuhnya mati se­hingga tanaman tidak menghasilkan (puso). Hama ganjur disebabkan oleh sejenis serangga yaitu Orseolia oryzae termasuk dalam family Cecidomyiiladae, seri Zyzoph­thal­mae, group Orthorrapa dan dari ordo Diptera.
Serangga ganjur dewasa bentuknya se­perti nyamuk. Serangga betina umumnya berwarna merah terang dengan abdomen agak gemuk berukuran panjang 4.8 mm dan lebar 0.5 mm. Serangga jantan berwarna lebih gelap dan lebih langsing dengan ukuran panjang  3 mm dan lebar 0.3 mm. Telurnya berwarna putih dan umumnya diletakkan tersebar atau ber­kelompok dibawah daun. Kadang-kadang juga tidak jarang telur diletakkan di pe­lepah daun, tana­man inang disekitar sawah. Bahkan pada rumput-rumput di-pematang dekat dengan air. Setelah menetas larva bergerak ke bahagian pucuk tanaman padi (titik tumbuh). Untuk dapat masuk ke bahagian tersebut larva bergerak masuk melalui antara celah-celah pelepah daun dengan batang.
Siklus Hidup
Faktor iklim terutama kelembaban sangat ber­pengaruh terhadap per­kembangan serangga ini. Siklus hidupnya antara 26 – 35 hari. Stadium telur berkisar  3 – 5 hari, larva 15 hari,  stadium prapupa 5 hari dan stadium pupa 5 hari. Se­rangga dewasa betina dapat hidup sekitar 3 hari, se­dang­kan yang jantan hanya hidup 12 sampai dengan 18 jam.
Serangga hama ini aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya. Pada waktu siang hari bersembunyi diantara tanaman padi. Serangga dewasa keluar dari puru-puru bahagian pucuk tanaman pada malam hari. Setelah kawin se­rangga betina dapat meletakkan telur pada daun tanaman antara 96 – 168 butir. Telur akan me­netas dalam waktu 3 – 5 hari umumnya menetas pada pukul 3 – 4 pagi. Larva yang keluar dari telur inilah yang berbahaya dan merusak titik tum­buh tanaman shingga padi tidak tumbuh normal.
Pengendalian
Pengendalian hama ini dianjurkan dila­kukan se­suai prinsip Pengen­dalian Hama Terpadi (PHT). Prinsip PHT pada dasarnya merupakan pengen­da­lian hama  dengan meng­gunakan pendekatan secara ekologi. Ada beberapa langkah pengen­dalian hama ini yaitu:
·        Penerapan teknologi usaha­tani yang benar. Meng­gu­na­kan benih yang tahan, per­semaian tepat  cara dan tepat waktu, tabur benih jarang, pemindahan ke lapa­ng­an umur benih tidak lebih 15 hst, tanam serentak dalam kawasan tertentu, jarak ta­nam yang sesuai (jarak tanam jarang sehingga kelembaban dapat diku­rangi) dan pemu­pukan berimbang. Kom­ponen usahatani tersebut perlu di­laku­kan secara teliti, benar dan bersama-sama dalam kelompok.
·        Sanitasi lahan sawah dan se­kitarnya dari tanaman inang dengan baik.
·        Melindungi serangga preda­tor dan se­rang­ga parasit yang hidup di sawah se­perti. Jenis predator lihat.
·        Jika serangan berat dapat dikendalikan dengan insek­tisida yang tepat. Yang pen­ting pengen­da­lian dengan insektisida ha­rus diper­ha­tikan jenis yang cocok, dosis yang tepat, dan benar cara pe­nyem­pro­tannya.
(Eshar,  2013).


------------------------------000000000000-------------------------------------

4. MENGENAL HAMA PENGGEREK BATANG PADI


Hama penggerek batang meru­pakan kelompok hama utama yang sering merusak tanaman padi dalam luas areal yang tidak sedikit. Penggerek batang padi termasuk hama klasik karena  sejak 1912 hama ini telah mengganggu tanaman padi di Indonesia.

Daerah penyebaran
Daerah penyebaran hama penggerek tergolong sangat luas hampir di seluruh dunia di mana ditanam tanaman padi ada hama ini. Umumnya, hama penggerek akan berkembang dengan baik di daerah tropika, sedangkan di daerah sub tropic hidup dengan suhu di atas 10 oC dan curah hujan diatas 1000 mm.
Aktivitas ngengat penggerek menjadi sangat  tinggi pada suhu 21 - 30 oC dengan kelembaban 82 %. Hama ini akan meletakkan telur  paling banyak pada hari hujan dengan suhu tinggi. Ngengat penggerek padi tertarik pada cahaya. Anginpun akan membantu penyebaran hama ini dengan cepat.

 Jenis hama penggerek padi
Mula-mula hama penggerek padi dikenal hanya hama penggerek padi putih. Kemudian setelah diteliti secara mendetil dijumpai ada 6 jenis hama penggerek padi yaitu penggerek padi kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek padi putih (S. in­notata),  penggerek padi merah jambu (Sesamia inferens), penggerek padi ber­garis (Chilo supressalis), penggerek padi berkepala hitam (C. polychrysus),  dan penggerek padi berkilat (C. auricilius).
Penggerek padi kuning merupakan peng­gerek yang luas penyebarannya. Hampir seluruh Indonesia hama peng­gerek ini dijumpai, walaupun demikian hama peng­gerek lain juga jangan dia­baikan karena daerah serangannya juga tergolong luas dengan kerusakan yang tidak sedikit. Hampir semua hama penggerek padi ter­golong dalam ordo Lepidoptera, family Pyralidae dan Nuc­tuidae. Umumnya, peng­gerek padi dari family Pyralidae mempu­nyai tanaman inang yang khusus sedang dari family Nuctuidae memiliki banyak tanaman inang. Secara visual jenis ngengat dari hama penggerek padi seperti gambar berikut.

Daur hidup
Hama dewasa dalam bentuk ngengat. Ukuran panjang ngengat 1.5 – 2 cm. Ngegat aktif pada malam hari dan meletakkan telur berkelompok pada daun padi (pukul 19.00 – 22.00). Setiap kelompok telur berisi 50 – 150 butir, dan seekor ngengat betina mampu betelur sampai 600 butir. Siang hari ngengat bersembunyi dibawah daun atau pada rumput-rumputan. Daur hidup hama penggerek padi adalah stadium telur 5 – 10 hari, larva 22 – 45 hari, pupa 6 – 11 hari, imago 5 – 10 hari sehingga umur siklus hidup hama ini antara 19 – 70 hari.
Larva yang keluar setelah telur menetas merupakan fase berbahaya bagi padi. Larva akan menggerek melalui daun masuk kepelepah dan terus kebawah. Larva menggerek batang mulai dari atas ke pangkal. Akibat gerekan pertumbuhan tana­man terganggu sehingga menim­bulkan gejala sundep (pada tanaman muda) dan beluk pada fase pertumbuhan generative.

Sebagian jenis hama ini setelah mencapai batang membungkus dirinya dengan kokon sehingga menjadi pupa. Pupa ini dijumpai di dalam pangkal batang atau diantara pelepah dan batang

Dengan diketahui sifat dan daur hidup dari hama penggerek batang padi sehingga penyuluh dan petani dapat mengambil langkah-langkah pencegahan, dan jika terjadi serangan akan segera mengatasinya secara dini.
(Eshar,  2013).


----------------------------------------- 0000000 ----------------------------------------

5. PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG PADI

Hama penggerek batang tergo­long hama penting dalam usahatani padi, karena kerusakan yang ditimbulkannya tidak sedikit. Hama ini pada serangan berat dapat merusak tanaman puluhan hektar dan tidak dapat mem­berikan hasil.
Larva penggerek dapat meng­ganggu pertum­buhan anakan padi, mengham­bat pertumbuhan tana­man, dan pem­bentukan bulir gabah tidak sempurna. Kerusakan yang terjadi pada tanaman muda masih dapat diperbaiki dengan tumbuh anakan baru tetapi sangat kurang, sedangkan serangan pada ta­naman tua tidak dapat di­perbaiki lagi. Kehilangan hasil akibat penggerek padi sekitar 10-15 %.
Pengelolaan cara bercocok tanam yang kurang baik menyebabkan perkem­bangan hama ini terus berkanjut. Ada beberapa penyebab sehingga hama penggerek sulit diatasi yaitu pena­nam­an tidak serentak, pengunaan varietas peka, jarak tanam yang tidak teratur dan penggunaan pupuk urea yang berlebihan.
a.   Pemupukan Nitrogen  berlebih.
Penggunaan pupuk N yang berlebih menyebabkan ngengat akan meletak­kan telur lebih banyak pada daun dan per­kembangan larva lebih baik. Akibatnya larva lebih berhasil meng­gerek tanaman karena tanaman sekulen.
b.  Varietas peka.
Varietas yang memiliki sifat-sifat fisiologi seperti kandungan air dan pati yang tinggi lebih disukai peng­gerek.

c.   Jarak tanam.
Pertanaman padi dengan jarak tanam jarang dapat mengurangi kelem­ba­ban sehingga meng­ganggu ke­hidupan larva.

Masa kritis tanaman padi
Ada beberapa tahapan tanaman padi yang tergolong masa sangat kritis bagi penggerek padi yaitu:
a.   Fase persemaian. Ngengat yang ber­telur dipersemaian dapat merusak bibit dalam jumlah besar, dan jika dipindahkan kelapngan maka tana­man akan menberikan gejala sundep, per­tumbuhan tertekan dan tidak menghasilkan.
b.  Fase pertumbuhan anakan. Gejala yang ditimbulkannya adalah gejala sundep. Larva yang ada dibatang bertahan untuk menjadi pupa. Pupa ini terletak dibahagian pangkal ta­naman dan sulit diatasi.
c.   Fase bunting dan berbunga. Gejala yang muncul adalah gejala beluk.

Cara pengendalian
Pengendalian hama penggerek batang padi berpedoman pada prinsip pe­ngen­dalian hama terpadu (PHT). Pengen­dalian secara PHT suatu usaha menu­runkan populasi hama sampai batas yang tidak merugikan. Caranya meng­kombinasikan bebe­rapa pengen­dalian yang sa­ling menunjang, mudah dila­kukan dan memberi keuntungan mak­simal serta aman terhadap lingkungan.
Ada beberapa cara dianjurkan yaitu:
a.   Perbaikan pola tanam dan tanam serentak. Lakukan juga pergiliran tanaman dengan ta­naman bukan padi dan bukan inang. Didaerah endemis gu­nakan varietas yang tahan dan lakukan pengawasan dengan baik.
b.  Pengendalian secara fisik dan me­kanik. Pengenadalian ini dila­kukan dengan mengumpulkan telur melalui membuang daun tempat diletakkan telur, dan jika telah terserang genangi lahan setinggi 10 – 15 cm selama 1 minggu. Tujuannya adalah memper­cepat tanaman ter­serang hancur, larva dan pupa mati serta mem­percepat tum­buh anakan baru.
c.   Eradikasi. Tanaman yang ter­serang berat dimusnahkan dan bakar.
d.  Pemanfaatan musuh alami. Lepaskan jusuh alami di lahan sawah sehingga dapat mengen­dalikan telur, larva dan pupa hama penggerek. Jenis musuh alami lihat gambar.
e.   Penggunaan insektisida. Pada se­rangan berat dapat digunakan insek­tisida. Aplikasi insektisida dilakukan secara bijaksana sehingga tidak me­nim­bulkan pencemaran terhadap ling­kungan dan memus­nahkan makh­­luk lainnya.
Didaerah endemis dapat dila­kukan penyemprotan insek­tisida karbo­furan 3% dengan dosis 17 kg/ha pada saat sebelum tanam dengan cara menaburkan merata dan mem­benamkan di dalam tanah.
JIka digunakan insektisida de­ngan aplikasi semprot, laku­kanlah pada saat telur baru menetas dan larva belum masuk kepelepah.
(Eshar,  2013).

-------------------------------00000000000000---------------------------------

6.  MENGENAL PENYAKIT UTAMA TANAMAN    PADI  DISEBABKAN OLEH CENDAWAN
Banyak penyuluh dan petani merasa sulit membedakan gang­guan pada tanaman padi yang disebabkan oleh hama, penyakit, lingkungan atau kekurangan hara. Keraguan itu karena gejala antara berbagai jenis penyakit hampir sama. Akibatnya terjadi pula keraguan dalam mengambil lang­kah-langkah penanganan.
Untuk memperjelas tanda-tanda dan gejala yang mudah dilihat berikut disajikan secara ringkas.


1.  Penyakit Blast.
Disebabkan oleh cendawan Pyricu­laria oryzae. Gejalanya: daun padi terjadi bercak berbentuk elip dimana bahagian kedua ujungnya lebih runcing. Mula-mula adanya bintik ke­cil warna hijau gelap atau abu-abu kebiruan. Bercak berkembang tepi­nya berwarna coklat dan bahagian tengah berwarna putih keabuan dengan panjang 1-1.5 cm dan lebar 0.3-0.5 cm. Cendawan ini juga menyerang batang, malai dan kulit gabah. Kerugiannya produksi rendah bahkan malai hampa.

2.  Busuk batang.
Disebabkan oleh cendawan Helmin­thosporium sigmoideum. Gejalanya: terjadi bercak selu­dang warna gelap. Bercak terus melebar  dan menjalar ke ba­tang sehingga batang lemah/­rebah. Kerugian produksi ren­dah bahkan puso.


3.  Hawar pelepah.
Disebabkan oleh Rhizoctonia solani. Gejalanya:  terjadi bercak pada pele­pah daun sampai ke daun bendera warna abu-abu kehijauan bentuk bulat panjang (oval) atau elips. Bercak mulai pada daun bahagian bawah terus ke atas.  Keadaan lanjut bercak tumbuh memanjang 2-3 cm  warna putih abu-abu de­ngan tepi warna coklat dengan miselia cen­dawan menjalar dipermukaan daun atau pe­lepah. Pada serangan berat seluruh daun rusak (hawar).
4.  Bercak daun coklat.
Disebabkan oleh Bipolaris orizae. Ge­jala:  ada bercak coklat pada daun dan kulit gabah bentuk oval menye­bar merata di permukaan daun. Jika telah lanjut berwarna coklat bagian tengah abu-abu dengan ukuran 1 cm.


5.  Bercak daun coklat bergaris
Disebabkan oleh Cercospora oryzae. Gejalanya: infeksi awal bercak kecil memanjang, kemudian menjadi cok­lat merata, ditepi coklat kemerahan dan bahagian tengah abu-abu. Se­rangan berat daun mengering.

6.  Penyakit Stackburn.
Disebabkan oleh Trichoconis caudate. Gejalanya: adanya bercak coklat gelap pada daun. Tepinya melingkar seperti cincin. Penyakit ini dapat merendahkan produksi.

7.  Noda palsu.
Disebbabkan oleh Ustilaginoidea virens. Gejalanya: malai padi rusak. Infeksi terjadi saat tanaman ber­bunga. Pada bulir padi terdapat kelompok spora, dan jika matang penyebaran­nya cepat karena dibawa angin. Penyakit ini menyebabkan gabah hampa.

8.  Busuk pelepah.
Disebabkan oleh Sarocladium oryzae. Gejalanya:  menyerang pelepah pem­bung­kus malai. Pelepah berwarna coklat dan jika serangan berat malai tidak keluar.

9.  Leaf scald.
Penyebabnya Gerlachia oryzae. Gejalanya timbul bercak coklat menyebar, sel daun rusak dan mengering.
(Eshar,  2013).





--------------------------000000000000000000000--------------------------------




7.  PENYAKIT PADI DISEBABKAN OLEH
        BAKTERI

Untuk meningkat produktivitas usa­hatani padi banyak hal  perlu diwaspadai secara dini. Diantara berbagai macam gangguan, yang paling umum dialami adalah gangguan hama, penyakit maupun gangguan iklim. Gangguan penyakit ta­naman sering terabaikan sehingga keru­gian­pun akan diterima petani tidak se­dikit.
Penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri misalnya, secara kasat mata tidak berbeda jauh dengan penyait lainnya. Tetapi bagi seorang penyuluh pertanian dan KTNA, perlu mengetahui gejala detil dari setiap serangan hama pe­nyakit sehingga lebih mudah mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya secara tepat. Untuk tujuan tersebut, secara garis besar disajikan beberapa penyakit padi yang disebabkan oleh bakteri serta gejala-gejalanya yang mudah dilihat.
1.  Hawar daun bakteri.
Disebabkan oleh bakteri Xanthomonas camprestris. Gejalanya: timbul bercak yang dimulai dari dari pinggir daun  dekat pucuk. Bercak yang baru ber­warna hijau pucat sampai hijau kelabu. Bercak akan berkembang dan meluas warnanya berubah menjadi putih sam­pai kuning dapat m,enutupi seluruh permukaan daun. Gajala ini juga dijum­pai pada seludang daun dan masuk sampai ketitik tumbuh sehingga tana­man tum­buh kerdil.

2.  Bakteri daun bergaris.
Disebabkan oleh  Xanthomonas oryzae. Gejala serangan dijumpai hanya ter­batas pada daun. Mula-mula terlihat bercak seperti garis berair diantara tulang daun dan secara bertahap warnanya berubah menjadi kuning atau jingga. Gangguan penyakit ini terjadi kurang efektifnya fotosintesa tanaman sehingga produksi menjadi menurun.

3.  Bakteri garis merah
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sp. Gajalanya, muncul pada daun kadang-kadang pada baha­gian pelepah daun terutama pada fase pembungaan. Gejala awal biasanya pada stadium anakan maksimum, se­dang­kan pada fase pembungaan gejala terlihat pada daun bendera, daun kedua dan ketiga dari atas.
Gejala awal timbul bercak pada daun berbentuk bulat atau bulat telur, warna merah kekuning-kuningan atau merah coklat kekuning-kuningan. Setelah men­capai diameter 3-5 mm bercak berkembang memanjang kea rah pangkal daun sehingga mem­bentuk garis-garis memanjang berwarna me­rah kekuning-ku­ningan dan kemudian mongering.
Akibat serangan bakteri ini masa pembungaan tidak sempurna, sehingga proses pematangan bulir padi menjadi tidak serentak.  (Eshar,  2013).
---------------- 0000 ---------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar