1.
Pendekatan Kontekstual
Pendekatan
konstekstual sesungguhnya memiliki makna bahwa penerima informasi penyuluhan
mampu menerima informasi teknologi lebih bermakna melalui “kegiatan mengalami
sendiri dalam lingkungan alamiah”, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat,
dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi,
yang akan gagal dalam membekali petani untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.
Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga
penyuluh dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan
prinsip membelajarkan – memberdayakan petani, bukan memberinformasi satu arah
saja.
Borko dan Putnam (ahli dalam
bidang pembelajaran) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual,
penyuluh memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi petani dengan cara
mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana ia hidup
dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Pemahaman,
penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam
materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam penyuluhan dan dengan kehidupan
sehari-hari. Dengan memilih konteks secara
tepat, maka petani dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan tempat
tinggal saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar
terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan
masyarakat luas.
Dalam penyuluhan
kontekstual, tugas penyuluh adalah membantu petani dalam mencapai tujuannya. Penyuluh
lebih banyak berurusan dengan strategi penyampaian informasi uji teknologi
daripada hanya memberi informasi. Penyuluh bertugas mengelola penyuluhan
sebagai sebuah sistem yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu
yang baru yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan
sendiri” dan atau penemuan orang lain.
Penggunaan
pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan
ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan
sikap, nilai, serta kreativitas petani dan kelompok tani dalam memecahkan
masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi
dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga
mengembangkan ketrampilan sosial (social skills). Lebih lanjut Schaible, Klopher, dan Raghven, dalam Joyce-Well (2000) menyatakan bahwa
pendekatan kontekstual melibatkan pihak binaan dalam masalah yang sebenarnya
dalam penelitian dengan menghadapkan mereka pada bidang penelitian dan uji coba
teknologi terapan, membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual
atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang
cara dalam mengatasi masalah.
2.
Pendekatan Konstruktivisme
Kontruktivisme
merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba (Suwarna,2005).
Menurut Caprio (1994), Mc Brien Brandt (1997), dan Nik
Aziz (1999) kelebihan teori konstruktivisme ialah petani dan kelompok
tani berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling
pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini
dibina sendiri oleh petani melalui proses pembelajaran dinamis.
Menurut
teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang
akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman
baru. Rumelhart dan Norman (1978)
menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya
dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya
dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep
yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang
dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaran atau tuning. Seseorang
juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan
analogi, yaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Menurut Gagne, Yekovich, dan Yekovich (1993) konsep
baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada
seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.
Pendekatan
konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran dalam penyuluhan
pertanian, kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan
perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang telah dipahami dan telah ada
pada mereka. Dalam proses ini, petani dapat meningkatkan pemahaman mereka
tentang sesuatu hal baik terkait dengan teknologi, pascapanen atau aspek
ekonomi.
Kajian Sharan dan Sachar (1992) membuktikan kelompok
tani yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat
pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kelompok tani yang diajar
menggunakan pendekatan tradisional. Kajian Nor Aini (2002), turut membuktikan bahwa pendekatan konstruktivisme
dapat membantu petani untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih
tinggi dan signifikan.
3.
Pendekatan Deduktif
Pendekatan
deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada
bagian awal pembelajaran dalam proses penyuluhan pertanian. Pendekatan deduktif
dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung
dengan baik bila petani telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep
dasarnya.
4.
Pendekatan Induktif
Ciri uatama
pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk
membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin
merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi
dilingkungan.
Prince dan Felder (2006)
menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan
deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di
bidang ilmu pengetahuan (sain) dan teknologi dijumpai upaya mencoba
pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan
teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama yang telah
dimiliki, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka.
Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada penyuluh mentransfer
informasi atau pengetahuan. Prince dan
Felder, (2006) melakukan penelitian di bidang psikologi dan neurologi.
Temuannya adalah: ”All new learning
involves transfer of information based on previous learning”, artinya semua
pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajaran
sebelumnya.
Major (2006)
menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan
menyajikan generalisasi atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen
logika. Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2) memberi
contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan dengan maksud untuk menguji
pemahaman mereka tentang definisi yang disampaikan. Biasanya pendekatan ini
lebih cocock digunakan dalam melatih dan membina kelompok taruna tani.
Alternatif
pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan
deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran
dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis
masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan
pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan
melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya,
menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing memahami
konsep, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan mereka
sendiri.
Major (2006)
berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk
mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan
contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Pihak yang
diajarkan melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep
atau geralisasi. Mereka tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa
abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan
menganalisis apa yang diamati.
Dalam fase
pendekatan induktif-deduktif ini pihak yang diajarkan diminta memecahkan soal
atau masalah. Kemp (1994) menyatakan
ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu
metode induktif dan deduktif. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif.
Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir
deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal
yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus” Soedjadi (2000). Dalam kegiatan
memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan
pola pikir induktif, pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara
bergantian.
5.
Pendekatan Konsep
Pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan konsep berarti petani dibimbing memahami suatu
bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses
pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus.
Dengan beberapa metode mereka dibimbing untuk memahami konsep.
6.
Pendekatan Proses
Pada
pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan petani
dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan,
menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Penggunaan pendekatan proses menuntut
keterlibatan langsung petani dalam kegiatan sistem pembelajaran dalam
penyuluhan.
Dalam
pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap
proses yang berlangsung dalam penyuluhan. Pertama,
proses mengalami. Dalam proses pendidikan harus sungguh menjadi suatu
pengalaman pribadi bagi peserta didik. Dengan proses mengalami, maka proses
adopsi akan menjadi bagian integral dari diri peserta; Kedua, bukan lagi potongan-potongan pengalaman yang disodorkan
untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri. Dengan demikian, proses
pendidikan dalam penyuluhan mengejawantah dalam diri peserta dalam setiap proses kelanjutan yang
dialaminya.
7.
Pendekatan Sains, Tekhnologi dan
Masyarakat
National
Science Teachers Association (NSTA) (1990) memandang Sains, Teknologi
dan Masyarakat (STM) sebagai the teaching and learning of science in
thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran
yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam pendekatan ini pihak
yang dilatih diajak untuk meningkatakan kreativitas,
sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. Definisi
lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE (2006) bahwa STM merupakan an
interdisciplinary approach whichreflects the widespread realization that in
order to meet the increasingdemands of a technical society, education must
integrate acrossdisciplines. Dengan demikian, pembelajaran dengan
pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagai disiplin
(ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yangterjadi di antara sains,
teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap
hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains
dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting
dalam pengembangan pembelajaran di era sekarang ini.
Pandangan
tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006), bahwa STM
merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a
understand the many ways that scinence and technology shape culture, values,
and institution, and how such factors shape science and technology. STM
dengandemikian adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui
bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di
masyarakat, dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan
sains dan teknologi.
Hasil
penelitian dari National Science Teacher
Association (NSTA) (dalam Poedjiadi, 2000) menunjukan bahwa pembelajaran
sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika
dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan
aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan.
Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang
diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi
masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang
dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah ilmia.
Model-model
Pembelajaran Rumpun Pemrosesan Informasi (dikutip dari Joyce, 1992)
No
|
Model
|
Tujuan
|
1.
|
Berpikir
induktif
|
Untuk
pembentukan kemampuan berpikir induktif dan penalaran atau pembentukan teori
|
2.
|
Latihan
inkuiri
|
Untuk
melibatkan siswa dalam berpikir sebab-akibat dan melatih mengajukan
pertanyaan secara lancar , tepat dan seksama
|
3.
|
Pemerolehan
konsep (concept attainment)
|
Untuk
mengajarkan (pembentukan) konsep dan membantu siswa menjadi lebih efektif
dalam belajar konsep (kemampuan berpikir induktif)
|
4.
|
Ingatan (Memori)
|
Untuk
meningkatkan kapasitas mengingat dan menerima informasi.
|
5.
|
Perkembangan
kognitif
|
Untuk
meningkatkan kemampuan berpikir /pengembangan intelektual, khususnya
berpikir logis.
|
6.
|
Pengorganisasian
(advance organizer)
|
Untuk
meningkatkan kemampuan mengolah informasi dalam kapasitas untuk membentuk dan
menghubungkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah ada.
|
7.
|
Sinektik
|
Untuk
meningkatkan berpikir kreatif
|
Keterangan: tulisan ini
disarikan dari bahan terbitan Media on line, bertujuan untuk menambah
pengetahuan masyarakat yang memerlukannya terutama santri Dayah Raudhatul Ulum
yang sebahagian dari mereka mendalami telaah di bidang ini, (Eshar).--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar