Jumat, 27 September 2013

BEBERAPA JENIS PENDEKATAN PEMBELAJARAN DALAM PENYULUHAN PERTANIAN

1.     Pendekatan Kontekstual

Pendekatan konstekstual sesungguhnya memiliki makna bahwa penerima infor­masi penyuluhan mampu menerima informasi teknologi lebih bermakna melalui “kegiat­an meng­a­lami sendiri dalam lingkungan alamiah”, tidak hanya sekedar mengetahui, me­ngingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali petani untuk memecahkan masalah dalam kehidup­an­nya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, se­hingga penyuluh dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan petani, bukan memberinformasi satu arah saja.
Borko dan Putnam (ahli dalam bidang pembelajaran) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, penyuluh memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi petani dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan ling­kungan di mana ia hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masya­ra­kat. Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada da­lam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam penyuluhan dan dengan kehi­dup­an sehari-hari. Dengan memilih konteks secara tepat, maka petani dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan tempat tinggal saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas.
Dalam penyuluhan kontekstual, tugas penyuluh adalah membantu petani dalam mencapai tujuannya. Penyuluh lebih banyak berurusan dengan strategi penyampaian informasi uji teknologi daripada hanya memberi informasi. Penyuluh bertugas mengelola penyuluhan sebagai sebuah sistem yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan atau penemuan orang lain.
Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk me­ngem­bangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas petani dan kelompok tani dalam meme­cah­kan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills). Lebih lanjut Schaible, Klopher, dan Raghven, dalam Joyce-Well (2000) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan pihak binaan da­lam masalah yang sebenarnya dalam penelitian dengan menghadapkan mereka pada bidang penelitian dan uji coba teknologi terapan, membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah.
2.     Pendekatan Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba (Suwarna,2005).
Menurut Caprio (1994), Mc Brien Brandt (1997), dan Nik Aziz (1999)  kelebihan teori konstruktivisme ialah petani dan kelompok tani berpeluang membina pengetahuan se­cara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh petani melalui proses pembelajaran dinamis.
Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau penga­laman baru. Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaran atau tuning. Seseorang juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, yaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Menurut Gagne, Yekovich, dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.
Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran dalam penyuluhan pertanian, kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan meng­hu­bungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang telah dipahami dan telah ada pada mereka. Dalam proses ini, petani dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu hal baik terkait dengan teknologi, pascapanen atau aspek ekonomi.
Kajian Sharan dan Sachar (1992) membuktikan kelompok tani yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kelompok tani yang diajar menggunakan pendekatan tra­disi­o­nal. Kajian Nor Aini (2002), turut membuktikan bahwa pendekatan konstruktivisme dapat membantu petani untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan.
3.     Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran dalam proses penyuluhan pertanian. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila petani telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya.
4.     Pendekatan Induktif
Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pem­be­la­jaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di bidang ilmu pengetahuan (sain) dan teknologi dijumpai upaya men­coba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama yang telah dimi­liki, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran de­ngan pendekatan deduktif menekankan pada penyuluh mentransfer informasi atau penge­tahuan. Prince dan Felder, (2006) melakukan penelitian di bidang psikologi dan neurologi. Temuannya adalah: ”All new learning involves transfer of information based on previous learning”, artinya semua pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajaran sebelumnya.
Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan dengan maksud untuk menguji pema­haman mereka tentang definisi yang disampaikan. Biasanya pendekatan ini lebih cocock digunakan dalam melatih dan membina kelompok taruna tani.
Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendeka­t­an deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pem­be­lajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pem­belajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan mereka sendiri.
Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efek­tif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali dengan mem­be­ri­kan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Pihak yang diajarkan melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu kon­sep atau geralisasi. Mereka tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi, te­ta­pi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati.
Dalam fase pendekatan induktif-deduktif ini pihak yang diajarkan diminta meme­cahkan soal atau masalah. Kemp (1994) menyatakan ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. Pada prin­sipnya matematika bersifat deduktif. Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang ber­pang­kal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus” Soedjadi (2000). Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat ber­pikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif, pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian.
5.     Pendekatan Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti petani dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode mereka dibimbing untuk memahami konsep.
6.     Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan ke­mam­puan petani dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merenca­na­kan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung petani dalam kegiatan sistem pembelajaran dalam penyuluhan.
Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam penyuluhan. Pertama, proses mengalami. Dalam proses pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi peserta didik. Dengan proses mengalami, maka proses adopsi akan menjadi bagian integral dari diri peserta; Kedua, bukan lagi potongan-potongan pengalaman yang disodorkan untuk dite­rima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri. Dengan demikian, proses pendidikan da­lam penyuluhan mengejawantah dalam diri peserta  dalam setiap proses kelanjutan yang dialaminya.
7.     Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
National Science Teachers Association (NSTA) (1990) memandang Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam pendekatan ini pihak yang dilatih diajak untuk meningkatakan kreativitas, sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE (2006) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society, education must integrate acrossdisciplines. Dengan demikian, pembelajaran dengan pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yangterjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pe­ngembangan pembelajaran di era sekarang ini.
Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006), bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture, values, and institution, and how such factors shape science and technology. STM dengandemikian adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat, dan bagaimana situasi sosial mempe­nga­ruhi perkembangan sains dan teknologi.
Hasil penelitian dari National Science Teacher Association (NSTA) (dalam Poedjiadi, 2000) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pen­de­katan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah ilmia.

Model-model Pembelajaran Rumpun Pemrosesan Informasi (dikutip dari Joyce, 1992)
No
Model
Tujuan
1.
Berpikir induktif
Untuk pembentukan kemampuan berpikir induktif dan penalaran atau pembentukan teori
2.
Latihan inkuiri
Untuk melibatkan siswa dalam berpikir sebab-akibat dan melatih mengajukan pertanyaan secara lancar , tepat dan seksama
3.
Pemerolehan konsep (concept attainment)
Untuk mengajarkan (pembentukan) konsep dan membantu siswa menjadi lebih efektif dalam belajar konsep (kemampuan berpikir induktif)
4.
Ingatan (Memori)
Untuk meningkatkan kapasitas mengingat dan menerima informasi.
5.
Perkembangan kognitif
Untuk meningkatkan  kemampuan berpikir /pengembangan intelektual, khususnya berpikir logis.
6.
Pengorganisasian (advance organizer)
Untuk meningkatkan kemampuan mengolah informasi dalam kapasitas untuk membentuk dan menghubungkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah ada.
7.
Sinektik
Untuk meningkatkan berpikir kreatif

Keterangan: tulisan ini disarikan dari bahan terbitan Media on line, bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat yang memerlukannya terutama santri Dayah Raudhatul Ulum yang sebahagian dari mereka mendalami telaah di bidang ini, (Eshar).--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar