Oleh Silman
Haridhy.
Orang tua yang bijak adalah selalu
menginginkan anak keturunannya menjadi pemimpin, dan sangat menghindari anak
keturunannya hidup dalam kelemahan terombang ambing dengan tidak ada pendirian
yang kokoh. Untuk itu Allah ajarkan kita melalui doa yang di nukilkan dalam
Alquran: “Rabbana hablana min azwajina wa
zurriyyatina qurrata a’yuni waj’alna lilmuttaqina imama”.
Islam adalah agama yang selalu
mengedepankan keadilan, keindahan, rahmah, ukhuwah, dan silaturrahmi. Islam
juga sangat menentang dan mengutuk kedhaliman, penindasan, dengki, khianat, dan
dusta. Semua itu dapat terwujud karena sikap dan prilaku. Sikap dan prilaku diwujudkan
oleh bentukan jiwa secara berkesinambungan baik diperoleh melalui sikap prilaku
orang tua dan lingkungan yang memberi contoh sehingga terekam di dalam batin
maupun dari buku dan media lainnya.
Banyak ahli psikologi berpendapat, pendidikan merupakan alat pemilah dan
penghalus prilaku bawaan yang dimiliki. Pembentuk dan penyaring prilaku
tersebut yang paling utama adalah agama. Siapapun yang berpegang teguh pada
ajaran Islam, pasti ia akan terlepas dari prilaku jelek. Islam jika diamalkan
dengan baik dan memiliki dasar pengetahuan yang kuat akan menghasilkan manusia
berakhlak mulia (akhlaqul karimah). Rasul bersabda : “Innama buitstu liutammima makarimal akhlaq”, sesungguhnya saya
diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Sebaliknya manusia yang dalam hidupnya
tidak dituntun oleh agama, maka iblis dan syaithanlah yang menjadi penuntunnya.
Generasi yang kuat adalah generasi
yang mampu mengusai dan mengendalikan potensi alam secara bijak, seimbang dan
tidak merusak. Kemampuan menguasai potensi sumberdaya yang ada merupakan
kemampuan yang hakiki yang didasarkan kepada kemampuan fikir dan eksploitasi
oleh manusia. Sumberdaya itu tidak ada
manfaat jika kemampuan eksploitasinya rendah. Kemakmuran dapat diperoleh
melalui peningkatan kemampuan sumberdaya manusia sehingga mampu
memanfaatkan sumberdaya alam secara baik, berkelanjutan dan menegakkan keadilan
untuk manusia lain dan lingkungannya.
Konsep
diatas dapat dikelola dengan baik manakala sumberdaya manusia memiliki ilmu
pengetahuan dan keterampilan. Tanpa itu semua, seluruh sumberdaya yang dimiliki
tidak banyak manfaatnya, dan selalu pemanfaatan sumberdaya yang ada tersebut
dilakukan oleh pihak lain yang lebih mampu, sehingga masyarakat generasi kita
hanya berfungsi sebagai penonton, dan bahkan menjadi buruh saja, seperti apa
yang terjadi selama ini. Pada hal Allah telah menegaskan kepada kita melalui
firmannya dalam Alquran : “Ya ma’syaral
jinni wal insi inistatha’tum minassamai wal ardh famfuzu, latamfuzu na illa
bisulthan”, wahai kelompok jin dan manusia, jelajahilah penjuru angkasa dan
bumi jika kamu mampu, tapi kamu tidak mampu kecuali dengan kekuatan.
Pemahaman
orang tua terhadap pentingnya mewariskan ilmu pengetahuan kepada anak generasi boleh
jadi masih kurang terbentuk. Umumnya, orang tua sangat gusar jika belum
meninggalkan harta yang cukup untuk anak-anaknya. Saat ini perlu disadari bahwa
meninggalkan harta yang banyak kepada anak generasi bukanlah suatu hal yang
penting, tetapi yang lebih penting mewariskan pengetahuan yang cukup sehingga
dari pengetahuan yang dimiliki mampu mengendalikan kehidupan yang lebih layak
dan bermartabat. Bukankah pengalaman telah menunjukkan kepada kita bahwa
meninggalkan harta yang melimpah sering menimbulkan sengketa dan pemutusan
silaturrahmi.
Pentingnya
pengetahuan telah dicontohkan Nabi Sulaiman. Manakala Allah tawarkan beberapa pilihan
kepada Sulaiman yaitu harta, kekuasaan, atau ilmu, maka Sulaiman memilih ilmu.
Karena dengan ilmu harta dan kekuasaan akan dapat diperoleh. Contoh teladan
yang diberikan Sulaiman tersebut perlu diterapkan dalam menghasilkan generasi
yang bermartabat ke depan.
Menghasilkan generasi ke depan yang memiliki
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang baik dengan iman dan taqwa (IMTAQ)
ada ditangan ibu dan bapak hari ini. Upaya itu tidak bisa dilepaskan terbentuk
secara alamiah. Upaya pembentukan generasi yang baik dan berkualitas harus
diusahakan secara sungguh-sungguh dan terencana. Anak-anak belum baligh tidak
dapat memahami pentingnya ilmu untuk menunjang kehidupan, yang paham hal
tersebut adalah orang tua. Oleh karena itu, pendidikan terhadap anak harus
telah direncanakan dari awal. Pendidikan itu harus berimbang antara ilmun-amaliyah dengan ulumuddiniyah. Keseimbangan itulah yang
mampu menghasilkan manusia santun, pemimpin adil, dan pengusaha dermawan.
Bukankah Alquran telah memberi contoh yang baik tentang wasiat Lukman kepada
Anaknya. “Ya bunayya latusyrik billah.
Innasyirka ladhulmun adhim”. Wahai Anakku Sayang, jangan sekali-kali kamu
sekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah dhalim yang sangat besar.
Kasih
sayang terhadap anak perlu ditumbuhkan secara baik. Lukman telah menampakkan
bagaimana santunnya berkomunikasi dengan anak. Komunikasi yang baik dan santun
menghadirkan rasa hormat. Dan rasa hormat tersebut menghasilkan kemuliaan yang
dapat menghasilkan watak santun pula dalam kehidupan.
Bukankah
generasi kedapan yang berilmu, dan santun sangat diharapkan. Pemimpin yang
dihasilkan dari generasi seperti itu akan mampu membawa rahmat bagi alam.
Karena contoh yang diberikan Rasul sebagai rahmatan lil alamin. Wama arsalna illa rahmatan lil alamin.
Pemimpin
dari generasi yang taat dan taqwa akan mampu membawa kemakmuran. Hal tersebut
telah dijanjikan Allah: “Walau Anna Ahlal
Qura Amanu Wattaqau Lafatahna Alaihim Barakatim Minassamai Wal Ardh”. Jika
suatu wilayah negeri pemimpin dan rakyatnya beriman dan taqwa, Allah akan
turunkan atas mereka barakah dari langit dan dari bumi”. Pemimpin dan
masyarakat beginilah yang diidamkan dimasa depan. Wallahu A’lam Bisshawab.
Penulis adalah Praktisi dan pemerhati
pembangunan,Pimpinan Dayah Raudhatul Ulum Kuala Batee Abdya,
tinggal di Banda Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar