(Yayasan Syech H.
Abdul Hamid Kamal (AHKAM)
Kabupaten Aceh
Barat Daya Provinsi Aceh)
Memahami “TEORI HUMANISTIK” dalam Menyampaikan Materi Penyuluhan*)
*)
disampaikan pada Diskusi Tahunan
tenaga pengajar/santri Dayah Raudhaul Ulum, dan penyuluh pertanian se ABDYA
**) Penyuluh Pertanian Ahli BKP2
Prov. Aceh.
Pendahuluan
Dalam penyampaian materi penyuluhan kepada
petani dan masyarakat atau orang yang ingin kita sampaikan informasi sehingga
mereka dapat mengetahui dan memahami tentang informasi yang kita berikan,
dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya adalah faktor “psikologis” dari
penerima informasi. Faktor psikologis ini sangat berhubungan dengan kondisi
dan keadaan jiwa seseorang.
Dalam pertemuan ini, akan dibahas tentang
teori humanistik. Pemahaman terhadap teori ini sangat membantu kita untuk
memudahkan dalam menyampaikan informasi dan berdakwah kepada berbagai pihak
terutama ang ingin dibina melalui kegiatan penyuluhan atau dakwah. Karena pelaksanaan
diskusi ini dilaksanakan di Dayah
Raudhatul Ulum, maka lembaga inipun perlu dikembangkan berbagai teori
pengajaran sehingga para santri dan siswa dapat memahami materi dengan baik.
Sesungguhnya, materi ajaran tersebut bukan hanya untuk mendapatkan nilai
kelulusan saja, tetapi menjadi bekal yang perlu diterapkan dalam kehidupan
terutama dalam berdakwah dan menyampaikan berbagai materi pengajaran kepada
masyarakat.
Teori Humanistik
Psikologi
humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun
1950-an. Kehadiran psikologi
humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme
serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga“ dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap
sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud
yang berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri. Kekuatan
psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov yang
meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.
Dalam
mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang
dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan
menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan
menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan
dan pemaknaan. Dalam hal
ini, James Bugental (1964)
mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu:
1. keberadaan
manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen;
2. manusia
memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya;
3. manusia
memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain;
4. manusia
memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya;
dan
5. manusia
memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.
Humanistik
menyatakan bahwa manusia adalah suatu ketunggalan yang mengalami, menghayati dan pada dasarnya aktif berupaya untuk memiliki arah dan
tujuan serta punya harga diri. Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga
ciri utama, yaitu:
·
Pertama, psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai
pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan
manusia.
·
Kedua, ia menawarkan pengetahuan yang luas akan
kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia.
·
Dan
Ketiga, ia menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang
lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.
Terdapat
beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi
humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok fenomenologi
yang mengkaji tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku
sejalan dengan apa yang dipersepsikannya.
Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang yang melekat dari kejadian itu
sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.
Carl Rogers merupakan salah seorang ahli
yang berjasa dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat
diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya
pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses
pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut.
Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara pelatih/penyuluh/guru dengan peserta/siswa.
.Psikologi
humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal
dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistic sering digunakan dalam penyuluhan atau berbagai
pendidikan non klasikal berusaha
mengembangkan individu secara keseluruhan melalui
pembelajaran nyata. Pengembangan
aspek emosional, sosial,
mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan
humanistik ini.
Jadi, pemahaman tentang manusia
dalam psikologi humanistik berdasarkan kepada keyakinan bahwa nilai-nilai etika merupakan
daya psikologi yang kuat dan ia merupakan penentu asas kelakuan manusia.
Keyakinan ini membawa kepada usaha meningkatkan kualitas manusia seperti pilihan, kreativitas, interaksi fisik, mental
dan jiwa, dan keperluan untuk menjadi lebih bebas. Psikologi humanistik juga
didefinisikan sebagai sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan kepada
berbagai nilai, sifat, dan tindak tanduk yang dipercayai terbaik bagi manusia, sehingga terwujudlah
satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia secara keseluruhan. (Eshar) (*).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar