Minggu, 22 September 2013

TEORI HUMANISTIK



(Yayasan Syech H. Abdul Hamid Kamal (AHKAM)
 Kabupaten Aceh Barat Daya  Provinsi Aceh)


Memahami  TEORI HUMANISTIK” dalam Menyampaikan Materi Penyuluhan*)


___________________
*)   disampaikan pada Diskusi Tahunan tenaga pengajar/santri Dayah Raudhaul Ulum, dan penyuluh pertanian se ABDYA
**) Penyuluh Pertanian Ahli BKP2 Prov. Aceh.

Pendahuluan
Dalam penyampaian materi penyuluhan kepada petani dan masyarakat atau orang yang ingin kita sampaikan infor­masi sehingga mereka dapat mengetahui dan memahami ten­tang infor­masi yang kita berikan, dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya adalah fak­tor “psikologis” dari penerima informasi. Faktor psikologis ini sangat berhubungan de­ngan kondisi dan keadaan jiwa seseorang.
Dalam pertemuan ini, akan dibahas tentang teori humanistik. Pemahaman terhadap teori ini sangat membantu kita untuk memudahkan dalam menyampaikan informasi dan berdakwah kepada berbagai pihak terutama ang ingin dibina melalui kegiatan penyuluhan atau dakwah. Karena pelak­sa­naan diskusi ini dilaksanakan di Dayah Raudhatul Ulum, maka lembaga inipun perlu dikembangkan berbagai teori pengajaran sehingga para santri dan siswa dapat memahami materi dengan baik. Sesungguhnya, materi ajaran tersebut bukan hanya untuk mendapatkan nilai kelulusan saja, tetapi menjadi bekal yang perlu diterapkan dalam kehidupan terutama dalam berdakwah dan menyampaikan berbagai materi pengajaran kepada masyarakat.

Teori Humanistik
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an. Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga“ dalam aliran psikologi. Psiko­ana­li­sis dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psiko­ana­li­sis ala Freud yang berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh ke­kuat­an tak sadar dari dalam diri. Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipe­lo­pori oleh Ivan Pavlov yang meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor-fak­tor eksternal dari lingkungan.
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemak­naan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu:

1.    keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen;
2.    manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya;
3.    manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain;
4.    manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan
5.    manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.

 Humanistik menyatakan bahwa manusia adalah suatu ketunggalan yang mengalami, meng­­­hayati dan pada dasarnya aktif berupaya untuk memiliki arah dan tujuan serta punya harga diri. Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu:
·      Pertama, psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pen­deka­tan untuk memahami sifat dan keadaan manusia.
·      Kedua, ia menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia.  
·      Dan Ketiga, ia menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.

Terdapat beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terha­dap perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan dengan apa yang dipersepsikannya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang yang melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.
Carl Rogers merupakan salah seorang ahli yang berjasa dalam mengantarkan psi­ko­logi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu fi­lo­sofi pen­di­dikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal se­la­ma berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emo­sio­nal yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara pelatih/penyuluh/guru dengan peserta/siswa.
.Psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan hu­manistic sering digunakan dalam penyuluhan atau berbagai pendidikan non klasikal ber­usaha mengem­bang­kan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengem­bangan aspek emo­sional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini.
Jadi, pemahaman tentang manusia dalam psikologi humanistik berdasarkan kepada keya­kinan bahwa nilai-nilai etika merupakan daya psikologi yang kuat dan ia merupakan penentu asas kelakuan manusia. Keyakinan ini membawa kepada usaha meningkatkan ku­ali­tas manusia seperti pilihan, kreativitas, interaksi fisik, mental dan jiwa, dan keperluan untuk menjadi lebih bebas. Psikologi humanistik juga didefinisikan sebagai sebuah sistem pemikiran yang ber­da­sar­kan kepada berbagai nilai, sifat, dan tindak tanduk yang dipercayai terbaik bagi manusia, se­hing­ga terwujudlah satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan ma­nu­sia secara keseluruhan. (Eshar) (*).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar